FOBIA

FOBIA RASA TAKUT YANG IRASIONAL

Rasa takut atau cemas akan sesuatu hal wajar terjadi pada setiap orang. Namun, bila rasa takut itu terjadi pada hal-hal kecil seperti melihat badut, tentu itu menjadi suatu hal yang tidak biasa.

Kata fobia sering muncul untuk menggambarkan seseorang yang takut ketika melihat benda atau berada dalan sltuasi tertentu. Terkadang sesuatu hal tu merupakan hal yang tidak begitu membahayakan bagi orang lain. Memang fobia Monica menciptakan rasa cemas atau takut yang membuat penderitanya memiliki persepsi yang tidak masuk akal.

Apakah itu normal? Tentu saja tidak. Karena, jika rasa ketakutan itu sudah menjadi berlebihan bahkan tanpa dilandasi alasan yang jelas, maka ketakutan itu menjadi tidak normal. Apalagi jika fobia itu sangat mengganggu aktivitas orang tersebut sehari-hari. Karena itu, penderita fobia harus mengatasi rasa ketakutannya agar ia bisa berfungsi dengan baik dalam kehidupannya sehari-hari.

Bentuk Lanjut Kecemasan

Kata fobia berasal dari bahasa Yunani “Photos” yang berarti “takut” atau “takut yang tidak wajar”. Dalam konteks psikologi klinis, fobia merupakan sebuah gangguan kecemasan di mana seseorang mengalami ketakutan terus-menerus terhadap suatu objek atau situasi. Penderita akan terus menghindari objek atau situasi tersebut yang sebenarnya tidak menimbulkan bahaya sama sekali untuk dirinya. Sehingga seringkali dianggap hal yang irasional.

“Setiap orang sangat wajar dan normal memiliki respon cemas terhadap sesuatu hal yang menakutkan atau mengkhawatirkan bagi dirinya. Namun, ketika kecemasan itu menjadi berlebihan hingga menimbulkan reaksi psikis dan psikotogis, termasuk usaha untuk menghindari objek yang menjadi stimulusnya, saat itulah kecemasan disebut dengan gangguan kecemasan. Salah satu bentuknya adalah fobia,” urai Monica Sulistiawati, psikolog dari Personal Growth.

Pengalaman buruk seseorang akan suatu objek hingga membuatnya mengalami ketakutan dan kekhawatiran setiap kali memikirkan atau menemui objek tersebut adalah penyebab timbulnya fobia. Kekhawatiran yang kemudian berkembang menjadi fobia terjadi saat orang tersebut mulai mengembangkan pikirannya secara negatif sehingga muncul pemikiran irasional mengenai objek ketakutannya itu.

Fobia bisa terjadi pada siapa saja tanpa mengenai batas usia, akan tetapi seseorang yang memiliki riwayat anggota keluarga pencemas maka kemungkinan besar juga akan menjadi pencemas dan lebih mudah mengalami fobia. Namun demikian, fobia bisa dicegah dengan menjaga pikiran tetap positif dan rasional. Selain itu, berusaha untuk terus menghadapi sumber-sumber ketakutan bukan lari menghindarinya bisa menghalau terjadinya fobia.

JENIS JENIS FOBIA
Mayoritas dari jenis fobia dibagi menjadi tiga kategori dan menurut penjelasan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Edisi Ke Empat (DSM-IV), fobia yang berada dalam ketiga kategori tersebut dimasukkan dalam sub tipe gangguan kecemasan. Tiga kategori fobia tersebut adalah:

• Fobia Sosial

Merupakan ketakutan terhadap orang lain atau situasi sosial di mana penderita akan mengalami kecemasan atau ketakutan akan rasa malu diawasi atau diperhatikan oleh orang lain. Fobia sosial seringkali sulit diatasi tanpa bantuan terapi atau dukungan dari lingkungan.

Fobia sosial termasuk rasa takut akan situasi atau pengawasan publik yang menyebabkan rasa malu atau penghinaan. Dalam fobia sosial juga terdapat kategori umum. Tidak seperti fobia spesifik yang terbentuk sebelum usia 10 tahun, fobia sosial biasanya tidak terjadi sampai penderita mencapai masa transisi pubertas. Setelah masa transisi ini, prevalensi fobia sosial meningkat seiring usia.

Banyak remaja yang memiliki fobia sosial tidak diterima oleh teman-teman sebaya mereka. Seperti disfungsi interpersonal yang memiliki risiko terjadinya depresi, ada beberapa akibat negatif dari remaja yang memiliki fobia sosial. Contohnya, sekitar 20% remaja yang mengalami fobia sosiai juga menderita depresi dan menggunakan alkohol atau zat berbahaya lainnya.

 • Fobia Spesifik

Merupakan ketakutan terhadap satu pemicu kepanikan yang spesifik seperti laba-laba, ular,

anjing, air, ketinggian, dan sebagainya. Banyak orang yang mungkin juga mengalami ketakutan akan beberapa objek tersebut namun dengan tingkat yang lebih rendah dari penderita fobia spesifik. Orang yang memiliki fobia ini umumnya selalu menghindari objek yang mereka takuti.

Fobia spesifik adalah ketakutan yang terus-menerus terhadap suatu objek atau situasi yang menimbulkan ketakutan beriebih atau tidak masuk akal ketika berhadapan dengan objek tersebut. Fobia spesifik dapat menyebabkan seseorang kehilangan kendali, panik, hingga pingsan saat berhadapan langsung dengan penyebab fobia. Fobia spesifik berkaitan dengan objek atau situasi tertentu sedangkan fobia sosial menekankan pada ketakutan sosial dan hal-hal lain yang mungkin mengikutinya.

• Agorafobia

Merupakan rasa takut meninggalkan rumah atau area kecil yang membuatnya nyaman, jika terjadi kemungkinan serangan panik bisa dialami penderita. Agorafobia bisa disebabkan oleh berbagai fobia spesifik seperti takut akan ruang terbuka, rasa malu sosial (agorafobia sosial), takut akan kontaminasi (takut terhadap kuman, bisa juga komplikasi dari obsessive compulsive disorder) atau PTSD {post traumatic stress disorder) yang berkaitan dengan trauma yang terjadi ketika berada di luar rumah.

Keparahan fobia sangat bervariasi pada setiap individu. Beberapa orang bisa dengan mudah menghindari objek yang mereka takuti dan mengalami kecemasan atau ketakutan yang relatif lebih ringan. Sementara beberapa orang lainnya akan mengalami serangan panik yang berlebihan dan gejala-gejala lainnya yang berkaitan. Kebanyakan dari mereka mengerti bahwa mereka mengalami ketakutan yang irasional namum tidak berdaya untuk menguasaii reaksi panik yang menyerang.

FOBIA JUGA HARUS DISEMBUHKAN

Monica menuturkan bila fobUa bisa disembuhkan dengan beberapa cara. Namun selurUh teknik yang digunakan bermain pada pembemtukan kognitif dan perilaku. Yakni, berusaha mengubah cara dan pola berpikir seseorang menjadi lebih baik serta membantu penderita untuk dapait menghadapi objek ketakutannya.

Salah satu bentuk terapi yang dapat dilakukan sama dengan yang digunakan untuk masalah gangguan kecemasan lain, yaitu Cognitive-Behavior Therapy (CBT). Ini adalah suatu bentuk terapi yang berusaha mengubah pemikiran irasional seseorang menjadi lebih rasional dengan tujuan menghasilkan perilaku yang adaptif. Selain itu juga terdapat beberapa cara lain untuk menghilangkan fobia.

Seseorang yang menyadari bila dirinya memiliki fobia, ia juga bisa melakukan terapi sendiri untuk menghilangkan fobianya tersebut. Pertama, kenali sifat dari objek yang ditakuti, misalnya fobia terhadap ayam. Mungkin yang menjadi ketakutan sebenamya bukanlah ayam, melainkan bulu-bulu pada ayam. Sehingga saat melihat apalagi menyentuh bulu-bulu ayam, ia merasa geli dan merinding.

Setelah mengetahui dan menyadari bahwa yang ditakuti bukanlah si ayam, melainkan bulunya, cobalah untuk berpikir positif. Tanamkan pada diri jika bulu ayam tidak akan menimbulkan masalah. Setelah mampu berpikir positif, bulatkan tekad untuk menghadapi ketakutan tersebut.

Lakukan secara bertahap, misalnya dengan menyentuh bulu ayam pada kemoceng, menggunakan kemoceng untuk membersihkan meja, memandangi ayam yang sedang berada di kandang, memandang ayam yang sedang berjalan, dan terus-menerus meningkat hingga muncul keberanian untuk menghadapi ayam dan tidak takut lagi dengan ayam •

 

 

KESIMPULAN
FOBIA adalah Rasa takut yang rasional, tapi jangan dirasakan secara berlebihan. Jika Anda tidak dapat menanggulanginya, Anda bisa konsultasi kepada Dokter Ahli. Jangan kuatir, Fobia bisa disembuhkan.


Fobia

Fobia

 

GAMBAR

Sumber : WANITA INDONESIA Tabloid
Artikel Lainnya : DIET OCD Oleh Deddy Gorbuzier

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *