Gigi Berlubang yang Masih Bisa Ditambal

Gigi Berlubang  Segera Ditambal
“ Mengenal spesialisasi dokter gigi”

Punya gigi berlubang sama saja punya borok menahun yang dibiarkan di dalam mulut

Bambang Nursasongko, drg SpKG(K) mengatakan hal itu saat menjadi pembicara tunggal dalam diskusi kesehatan gigi bertema Bagalmana Memilih Dokter Gigi yang Tepat’, di Klinik Jakarta Dental di Jalan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/8).

Namun. banyak orang tidak segera merawat giginya yang berlubang jika tidak terasa sakit. Seandainya berobat hanya untuk menghilangkan rasa sakit. Setelah rasa sakitnya hilang, gigi berlubangnya tetap tidak dirawat.

Padahal. masalah gigi berlubang tidak hanya berhenti pada masalah abses (bisul/ nan ah) gigi yang menimbulkan rasa sakit Tapi perlu diwaspadai ancaman infeksi kronis di suatu tempat yang memicu penyakit lain. “Racun dan sisa kotoran maupun mikroba yang memicu infeksi pada gigi dan mulut dapat menyebar ke anggota tubuh lain,” kata Bambang.

Dia menjelaskan, penjalaran infeksi yang berasal dari gigi berlubang bisa mengenai banyak organ. Ada 42 jenis penyakit, seperti bisul. bengkak di sekitar gigi, wajah, mengenai Jantung, rhemumatoid arthritis, dan tumor otak.

Tarabal atau cabut

Setiap gigi yang berlubang harus ditambal. Jika tidak memungkinkan dilakukan pera-watan, harus dicabut. Namun, Bambang wanti-wanti agar pencabutan gigi harus benar-benar tindakan terakhir. Jika ada perawatan yang bisa mempertahankan gigi tersebut, harus diambil pilihan tersebut.

“Gigi yang dicabut akan membuat ompong. Jika ompong akan membuat gigi yang bagian samping atau bagian atas atau bagian bawah gigi tersebut mencari keseimbangan. Sehingga biasanya jika tidak segera dibuat gigi palsu akan membuat gigi goyang dan akhirnya dicabut juga. Menggunakan gigi palsu juga tidak senyaman menggunakan gigi tetap,” kata dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia ini.

Untuk memastikan perawatan gigi bisa dilakukan dengan benar, diperlukan keahlian dari dokter gigi tersebut. Sebab, perawatan gigi terkadang membutuhkan perawatan yang lebih rumit dan panjang. Sehingga tak jarang pasien memilih jalan pintas dengan meminta gigi yang bermasalah dicabut.

Di luar tindakan penambalan atau pencabutan pada gigi berlubang. Bambang tidak menyarankan tindakan lain. Termasuk penggunaan obat herbal atau getah yang membuat gigi berlubang tidak sakit.

Pasalnya, obat penghilang rasa sakit itu hanya mematikan saraf. Saraf yang mati tidak akan menimbulkan sakit. Tidak terasa sakit inilah yang kadang melenakan dan dianggap “sembuh”. Padahal setiap hari, gigi yang berlubang tetap bisa kemasukan sisa makanan atau mikroba yang membuat infeksi dari gigi berlubang tersebut, tetap berlanjut dan bisa menyebar.

“Gigi berlubang yang memiliki saraf yang hidup akan merasakan sakit dan sudah peradangan. Nyul-nyut yang dirasakan saat sakit gigi mengikuti pembuluh darah,” ujarnya.

Jika sedang sakit seperti itu, dokter gigi tidak akan melakukan perawatan dulu. Setelah menunggu 1-2 hari sampai rasa sakit itu hilang baru dilakukan perawatan.

Komposit atau Amalgam

Pada saat menambal gigi, ada dua bah an yang biasa digunakan. yaitu amalgam dan komposit. Kedua bahan itu memiliki keung-gulan dan kelemahan masing-maslng.

Komposit memiliki warna cenderung hampir sama dengan gigi (putih). Komposit akan menyatu dengan gigi secara lebih sempurna. Namun, karena bahannya yang lebih lunak ketimbang amalgam, harus lebih berhati-hati saat mengunyah atau menggigit lebih rentan retak dan bocor.

Sedangkan amalgam karena berbahan logam jadi lebih tertutup dan kuat. Namun. ada orang yang memiliki sensitif terhadap logam sehingga menimbulkan alergi.

Walaupun kadar merkuri dalam amalgam sangat sedikit dan sudah pasti dalam batas aman. tapi bagi orang yang sensitif tetap blsa menimbulkan dampak.

Yuk, Mengenal Spesialisasi Dokter Gigi

Jika kita sedang sakit gigi, apakah memerhatikan spesialisasinya seperti halnya ke dokter spesialis dokter pada umumnya? Jika belum. mulailah dari sekarang untuk memerhatikan apa spesialisasi dari dokter gigi tersebut. Jangan hanya ke dokter gigi berarti bisa mengatasi semua permasalahan gigi. Pasalnya, dengan menyesuaikan spesialisasi kedokteran gigi dengan keluhan yang ada, tentunya akan, tertangani lebih baik oleh ahlinya.

Mari kita mengenal spesialisasi apa saja yang ada dalam dokter gigi. Karena tidak seperti spesialisasi dokter pada umumnya, spesialisasi pada dokter gigi belum begitu dikenal bagi masyarakat umumnya.

Spesialisasi ini sudah dimulai dari tahun 1982 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia yang menyelenggarakan program pendidikan dokter gigi spesialis. Setelah itu di tahun 1984 baru diikuti oleh Universitas Airlangga, UGM, dan Universitas Padjajaran di Bandung. Lamanya pendidikan antara 3-6 tahun.

Mengapa penting berobat ke dokter gigi spesialis? Menurut Bambang Nursasongko drg.SpKG(K), dengan adanya spesialisasi akan memberikan informasi serta perawatan secara lebih tepat dan benar dengan tanggungjawab moral dan akademik.

“Keberhasilan perawatan gigi dan mulut lebih ditentukan oleh keahlian dan kemampuan dokter giginya dibandingkan dengan kemewahan tempat dan peralatannya,” kata Bambang saat menjadi pembicara tunggal dalam diskusi kesehatan gigi dengan tema “Bagaimana Memilih Dokter Gigi yang Tepat” di Klinik Jakarta Dental di Jalan Melawai, Jumat . Dia menjelaskan, keahlian dan kemampuan yang baik didapat dari teori dan praktik melalui pendidikan formal dan bukan dari pengalaman praktik semata.

KESIMPULAN
Gigi Berlubang  Segera Ditambal
secepat mungkin agar tidak merambat atau meluas ke gigi-gigi yang lain.

SUMBER                              : KORAN WARTA KOTA
ARTIKEL LAINNYA            :
Cantik dari Luar dan Dalam

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *