Gula vs. Garam

Gula vs. Garam

Ada takaran tersendiri yang harusditaati bila kita hendak mengonsumsi gula agar kesehatan tidak terabaikan. Gula ini memang sesuatu yang manis dan mampu membuat kita ketagihan. Makanan yang tidak mengandung gula akan hambar bila masuk ke dalam mulut. Namun ternyata kebanyakan menambah gula pada makanan juga tidak baik.

Berdasarkan penelitian, gula yang sebaiknya dikonsumsi wanita maksimal 6 sendok teh sehari. Pada pria, konsumsi gula maksimal 9 sendok teh sehari. Namun bagi anak-anak usia 4-8 tahun, konsumsi gula maksimal 3 sendok teh saja seharinya. Bila konsumsi gula terlalu banyak, penyakit yang ditimbulkan pun akan menjadi banyak. Contohnya adalah diabetes dan penyakit jantung.

Gula ini memang terbuat dari tebu yang alami, namun karena proses-nya tidak alami, sari tebunya sudah tidak sampai lagi pada tubuh kita. Alhasil penyakitlah yang akan dibawanya. Untuk itu, kita harus benar-benar pandai mengatur gula dalam mengonsumsinya.

 

Gula Menyebabkan Ketagihan

Karena sifatnya yang manis ini, tidak hanya orang dewasa yang me-nyukainya, namun anak-anak juga. Manisnya permen atau makanan manis lainnya akan menyebabkan kita mudah sekali mengudap. Dan keinginan mengudap ini sangat tidak baik karena dapat memicu obesitas dan penyakit lainnya. Konsumsi gula sebagai camilan akan berdampak buruk, apalagi bila menambahkan gula se-cara terus-menerus setiap hari. Bisa ditebak kalau yang terjadi adalah penyakit mudah hinggap. Mulanya hanya obesitas biasa, lama-kelamaan akan muncul diabetes, lalu penyakit jantung dan penyakit lainnya.

Jadi sebaiknya jangan memilih kudapan yang diproses d»m diberi gula tambahan, seperti crackers, cookies, dan croissants karena camilan itu cenderung membuat Anda cepat lapar lagi. Coba pilih camilan yang terbuat dari gandum utuh saja, seperti popcorn tanpa tambahan garam dan mentega. Hindari juga sereal yang sudah diberi tambahan pemanis, dan berbagai makanan beku dengan embel embel “diet”. Makanan seperti ini biasanya tidak cukup mengenyangkan.

Bahaya Gula Bagi Kesehatan

Kerusakan otak Pernah mendengar istilah gula bibit? Gula bibit adalah gula dari bahan kimia yang kemanisannya jauh di atas sakarosa. Contoh gula bibit di antaranya adalah aspartam dan sakarin. Terlalu banyak mengonsumsi gula bibit bisa menyebabkan kerusakan otak! Namun, penggunaan gula bibit masih banyak ditemukan di pedagang kaki lima, baik di sekolah, terminal, dan sebagainya. Biasanya mereka menjual minuman, seperti sirup, dengan harga yang murah dan tidak masuk akal. Maka berhati-hatilah jika membeli minuman di pedagang kaki lima.

Flu berkepanjangan dan hiperaktif pada anak Pada usia anak-anak, sebisa mungkin orang tua tidak sering memberikan makanan manis, seperti cokelat dan permen. Berdasarkan penelitian, kebanyakan mengonsumsi gula pada masa kanak-kanak dapat menimbulkan gangguan pada telinga, hidung, dan tenggorokannya sehingga menyebabkan penyakit flu yang berkepanjangan. Selain itu, perilaku anak yang banyak mengonsumsi gula akan hiperaktif dan sulit diatur.

Karies pada gigi. Terlalu banyak mengonsumsi gula akan meng-hasilkan lapisan kotoran di gigi. Lapisan ini akan merusak email gigi dan meninggalkan pengapuran (karies) di gigi. Kecenderungan terse-but akan lebih besar peluangnya untuk terjadi jika kita mengonsumsi gula yang juga mengandung asam, seperti cola.

Gangguan pencernaan, khususnya usus Gula dapat memper-banyak flora di usus yang merupakan makanan bagi jamur di usus. Jika makanan jamur ini bertambah banyak, jamur akan lebih mudah berkembang. Apabila jamur sudah berkembang luas di usus kita, usus tidak akan bekerja secara normal.

Obesitas Mengonsumsi gula sama dengan mengonsumsi kalori. Jika kita banyak mengonsumsi kalori tanpa disertai olahraga teratur, maka kalori dari gula tidak terpakai sehingga akan diubah menjadi lemak dalam tubuh. Jika terjadi terus-menerus, lemak tubuh akan menumpuk dan terjadi penimbunan lemak yang biasa disebut obesitas. Efek samping dari obesitas adalah gangguan sirkulasi darah, diabetes, nyeri persendian, dan darah tinggi.

Fungsi Garam Dalam Tubuh Manusia

Di dalam tubuh ada asam basa, sedangkan garam berguna untuk membantu kontraksi otot, kerja sel-sel saraf, membantu konsentrasi otak, dan menjaga tubuh agar tidak terasa lemas. Selain itu, kandung-an garam dalam batas normal dan kandungan sodium klorida juga dibutuhkan untuk mempertahankan cairan dalam tubuh untuk sirkulasi darah dan di dalam tubuh. Namun, kandungan garam berlebihan akan menyebabkan kepadatan massa tulang berkurang atau osteopeni (gangguan tulang tahap ringan).

Bahaya Garam Bagi Kesehatan

Kadar garam yang berlebihan di dalam tubuh akan dikeluarkan, hal ini juga mengakibatkan kalsium turut keluar. Jika terus berlangsung, akan terjadi osteopeni, yaitu kepadatan tulang berkurang. Kandungan garam normal di dalam tubuh sebesar 500 gram dan jika konsumsi ber-lebih terjadi terus-menerus, akan terjadi osteoporosis.

Bahkan, konsumsi garam berlebih berisiko menyebabkan patah tulang. Hal senada diungkapkan Profesor Graham MacGregor dari Cash (Consensus Action on Salt and Health). Asupan garam yang berlebihan di dalam tubuh akan menyebabkan stroke dan serangan jantung, bahkan bisa berakibat lebih parah. “Tingginya kadar garam di dalam cairan tubuh akan memengaruhi fungsi organ tubuh yang lain atau otak. Kadar garam yang berlebihan menyebabkan melebarnya pembuluh darah. Kondisi fatal adalah pecahnya pembuluh darah, dan terjadilah stroke,” ujar MacGregor. Lebih lanjut dia mengungkapkan, ketika level sodium terlalu tinggi, tubuh akan menahan terlalu banyak volume cairan di dalam tubuh yang terus meningkat.

Dalam keadaan yang sama, tingginya kadar garam di dalam saluran tubuh juga akan menekan jantung, dan meningkatkan risiko serangan jantung koroner. Untuk itu, sudah saatnya ibu rumah tangga yang menyiapkan masakan di rumah lebih memerhatikan penggunaan garam karena kandungan garam yang sama belum tentu akan diproses sama oleh masing-masing anggota keluarga. Orang dewasa mungkin bisa mengeluarkan garam dari dalam tubuh melalui ginjal dalam bentuk urin. Namun, anak kecil akan mengalami kesulitan karena tidak mempunyai cukup kapasitas dalam memproses garam dan mengeluarkannya kembali. Apalagi pada anak, organ-organnya belum berkembang maksimal. Jika anak-anak tetap diberikan asupan makanan untuk porsi orang dewasa, garam akan menumpuk dalam tubuh dan mampu merusakkan jantung, hati, dan otak.

Kesimpulan
Gula Vs Garam. Kedua-duanya sama-sama punya manfaat masing-masing untuk masakan, Tapi jika untuk makanan disarankan menggunakan garam ( beryodium ) & jangan terlalu banyak menggunakan gula.

Gula vs. Garam

Gula vs. Garam

Sumber : SEHAT ITU PILIHAN
Artikel Lainnya : Menopause adalah

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *