Kanker Usus Besar

Kanker Usus Besar (Termasuk Colon dan Rektum)

Pada akhir 2002,George W. Bush menyerahkan tampuk kepresidenan kepada Dick Cheney selama sekitar 2 jam. sementara ia nienialam prosedur colonoscopy. Karena implikasi colonoscopy yangdilakukanoleh Presiden Bush terhadap politik dunia, kisah tersebut menjadi berita nasional. Pemeriksaan kanker colon dan rektum menjadi tajuk berita untuk sesaat. Di seluruh negeri, baik itu pelawak yang menjadikannya bahan lelucon maupun pembaca berita yang menjelaskan drama tersebut, setiap orang tiba-tiba, untuk sesaat, membicarakan hal yang disebut colonoscopy dan manfaatnya. Itu adalah saat-saat yang langka, ketika seluruh negeri mengalihkan perhatiannya kepada salah satu pembunuh yang paling produktif, yaitu kanker colon dan rektum.

Kanker colon dan rektum adalah kanker pada usus besar. Kedua kanker tersebut memiliki banyak persamaan sehingga sering dikelompokkan dengan istilah kanker colorectal. Kanker colorectal adalah kanker keempat terumum di dunia, dalam hal total angka mortalitas.'”‘ Kanker ini berada di posisi kedua terumum di Amerika, dengan 6% penderita kanker dari total populasi.r Beberapa ahli mengklaim bahwa, pada usia 70. setengah dari populasi negara negara yang “ter-Barat isasi” akan menderita tumor di usus besar dan 10% dari kasus tersebut menjadi semakin ganas.”1

Perbedaan Geografis

Amerika Utara, Kropa, Australia, dan negara-negara Asia yang kaya (Jepang, Singapura) memiliki tingkat kanker colorectal yang sangat tinggi. Sementara itu, Afrika, Asia, dan sebagian besar Amerika Tengah dan Selatan memiliki tingkat yang rendah untuk kanker ini. Sebagai contoh, Republik C’eko memiliki angka kematian 34,19 per 100.000 laki laki, sementara Bangladesh memiliki angka kematian 0,63 per 100.000 laki-laki!”‘*1 Grafik 8.3 menusukkan perbandingan angka kematian rata-rata di antara negara-negara berkembang dan negara-negara miskin; semua angka tersebut disesuaikan dengan usia.

GAMBAR

Kenyataan bahwa tingkat kanker colorectal sangat berbeda jauh antarnegara telah diketahui sejak berdekade lalu. Pertanyaannya selalu mengapa. Apakah perbedaan tersebut disebabkan oleh genetis atau lingkungan?

Tampaknya, faktor-faktor lingkungan, termasuk pola makan, memainkan peran paling penting dalam kanker colorectal. Penelitian migrasi menunjukkan bahwa saat orang-orang pindah dari area yang rendah tingkat kanker colorectalnya ke area tinggi, mereka diasumsikan memiliki risiko menderita kanker yang lebih tinggi dalam dua generasi.”* Hal ini mengisyaratkan bahwa pola makan dan gaya hidup adalah penyebab penting bagi kanker ini. Penelitian lain )uga menemukan bahwa tingkat kanker colorectal berubah sangat cepat saat sebuah populasi mengubah pola makan atau gaya hidupnya.*4 Perubahan cepat dalam tingkat kanker dalam satu populasi tidak mungkin dapat dijelaskan dengan perubahan warisan gen. Dalam konteks masyarakat manusia, diperlukan ribuan tahun untuk membuat perubahan warisan gen yang tersebar luas dan permanen, diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Jelas sekali, sesuatu dalam lingkungan atau gaya hidup dapat menghentikan atau meningkatkan risiko terserang kanker colorectal.

Dalam sebuah karya ilmiah yang dipublikasikan lebih dari 30 tahun lalu. peneliti membandingkan (aktor-faktor lingkungan dan tingkat kanker di 32 negara.1* Salah satu hubungan terkuat antara kanker apa pun dan faktor makanan apa pun adalah hubungan antara kanker colon dan asupan daging. Grafik 8.4 menunjukkan hubungan ini pada perempuan di 23 negara.

GAMBAR 2

Dalam laporan ini. negara-negara yang mengonsumsi lebih banyak daging, lebih banyak protein hewani, lebih banyak gula, dan lebih sedikit sereal gandum memiliki tingkat kanker colon yang jauh lebih tinggi.** Peneliti lain yang pernah saya sebut dalam Bab 4, Denis Burkitt, memiliki hipotesis bahwa asupan serat dalam makanan sangat penting untuk kesehatan pemernaan secara umum. Beliau membandingkan sampel kotoran dan asupan serat di Afrika dan Eropa, dan mengatakan bahwa kanker colorectal umumnya disebabkan kurangnya asupan serai* Ingat, serat hanya ditemukan pada makanan nabati. Serat adalah bagian dari tumbuhan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh kita. Meminjam data dari penelitian lain yang membandingkan pola makan di tujuh negara, peneliti menemukan bahwa mengonsumsi tambahan 10 gram serat makanan per hari dapat menurunkan risiko jangka panjang terkena kanker colon sebanyak 33%/*” Ada 10 gram serai dalam 1 cangkir raspberry, 1 buah pir Asia. atau 1 cangkir kaiang polong. Satu cangkir dari varietas kacang-kacangan apa pun cukup untuk menyediakan lebih dari 10 gram serat.

Dari semua penelitian ini, tampak jelas bahwa pola makan pada kanker colorectal sangat penting. Namun, apa tepatnya yang menghentikan kanker colon dan kanker rektum? Apakah serat? Apakah buah dan sayuran? Apakah karbohidrat? Apakah susu? Masing-masing nutrisi tersebut memainkan peranannya. Perdebatan semakin sengit dan jawaban yang solid jarang disetujui bersama.

KESIMPULAN
Kanker Usus Besar , Berdasarkan, penelitian di Afrika dan Eropa, kanker colorectal umumnya disebabkan kurangnya asupan serat.

SUMBER                                  : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Indikasi Asma

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *