KELUARGA PROTEIN

KELUARGA PROTEIN

Seluruh karier profesional saya dalam bidang penelitian biomedis terpusat kepada protein. Protein, yang sering dianggap sebagai keajaiban alam tak terpecahkan, adalah ikatan utama yang mengikat pengetahuan masa lalu dan masa kini tentang nutrisi.

Kisah tentang protein sebagian adalah tentang ilmu pengetahuan, sebagian budaya, dan sebagian besar mitologi. Saya teringat kata-kata Goethe, pertama kali diucapkan oleh rekan saya, Howard Lyman, seorang guru yang hebat, penulis, dan mantan penggembala ternak: “We are best at hiding those things which are in plain sight” (kita sangat pandai menyembunyikan hal-hal yang tidak enak dipandang). Tidak ada kisah mana pun yang disembunyikan sebaik kisah protein yang tak pernah dipublikasikan. Dogma yang menyelimuti protein menyensor, membentuk, dan membimbing, secara langsung dan tak langsung, hampir semua pemikiran yang kita punya dalam penelitian biomedis.

Sejak ditemukannya unsur kimia bernitrogen ini pada tahun 1839 oleh seorang ahli kimia berkebangsaan Jerman, Gerhard Mulder, protein telah menjadi hal sakral dari semua nutrisi. Asal kata protein dari bahasa Yunani adalah proteios, artinya “of prime importance” (yang teramat penting).

Di abad ke-19, protein disinonimkan dengan daging, dan hubungan ini telah bertahan selama lebih dari seratus tahun. Banyak orang saat ini masih menyamakan protein dengan makanan berbasis hewani, Jika diminta menyebutkan satu jenis makanan yang terlintas dalam benak Anda saat saya mengatakan protein. Anda mungkin akan menjawab daging sapi. Jika menjawab demikian. Anda tidak sendiri. Kebingungan telah menguasai banyak pertanyaan mendasar mengenai protein. Dari manakah sumber protein yang baik?

• Seberapa banyak protein yang sebaiknya dikonsumsi?

• Apakah protein nabati sebaik protein hewani?

• Apakah perlu mengombinasikan makanan nabati tertentu dalam daging untuk mendapatkan protein lengkap?

• Apakah disarankan mengonsumsi bubuk protein atau suplemen asam amino, terutama bagi orang-orang yang banyak beraktivitas fisik atau berolahraga?

• Perlukah seseorang mengonsumsi suplemen protein untuk membentuk otot?

• Beberapa protein dianggap berkualitas tinggi, beberapa lainnya buruk; apa maksudnya?

• Dari manakah vegetarian mendapatkan protein?

• Dapatkah anak-anak yang dibesarkan secara vegetarian tumbuh normal tanpa protein hewani?

Dasar dari berbagai pertanyaan dan keprihatinan umum ini adalah kepercayaan bahwa daging merupakan protein dan protein adalah daging. Kepercayaan ini berasal dari kenyataan bahwa “jiwa” dari makanan berbasis hewani adalah protein. Dalam banyak produk dagingdan olahan susu, kita dapat setara selektif menghilangkan lemak, tetapi masih dapat menikmati rasa daging dan susu yang biasa. Kita melakukan ini sepaniang hidup, yaitu dengan daging tanpa lemak dan susu skim. Namun, jika secara selektif menghilangkan protein dari makanan berbasis hewani, kita akan kehilangan makanan yang biasa kita nikmati. Sepiring daging steak nonprotein, misalnya, hanya akan mcniadi sekubangan air. lemak, serta sedikit vitamin dan mineral. Siapa yang mau memakan itu? Secara singkat, agar makanan dapat dikenali sebagai makanan berbasis hewani, makanan tersebut harus mengandung protein. Protein adalah elemen inti dari makanan berbasis hewani.

Peneliti awal. seperti Cari Voit (1831-1908), seorang ilmuan kenamaan asal Jerman, adalah rajanya protein. Voit menemukan bahwa “pria” hanya membutuhkan 48,5 gram protein per hari. Namun, ia merekomendasikan untuk melipatgandakan angka tersebut menjadi 118 gram karena bus budaya pada waktu itu. Protein disamakan dengan daging dan setiap orang mendambakan dapat menghidangkan daging di meja makannya, sama seperti kita irendambakan dapat memiliki rumah yang lebih besar atau mobil yang lebih cepat. Voit mengatakan bahwa tidak ada kata cukup untuk hal yang baik.

Voit kemudian menjadi mentor untuk beberapa peneliti nutrisi terkemuka di awal 19<X)-an. termasuk Max Rubner (1854-1932) dan W. O. Atwater (1844-1907). Kedua murid tersebut mengikuti nasihat guru mereka dengan sangat ketat. Rubner menyatakan bahwa asupan protein, artinya daging, adalah simbol dari peradaban itu sendiri: “A large protein allowance is the right of civilized man” (konsumsi protein dalam jumlah besar adalah hak dari setiap orang yang beradab). Atwater melanjutkan dengan membentuk laboratorium nutrisi yang pertama di United States Department of Agriculture (USDA). Sebagai ketua USDA. ia merekomendasikan 125 gram protein per hari (sekarang hanya sekitar 55 gram protein per hari yang direkomendasikan). Pada bagian selanjutnya dalam buku ini, Anda akan melihat pentingnya preseden awal ini bagi institusi-institusi pemerintah.

Bias budaya telah menyebar. Jika menganggap diri Anda orang beradab, Anda akan mengonsumsi banyak protein, lika kaya. Anda makan daging, dan jika miskin, Anda akan memiliki menu dari tumbuh-tumbuhan, seperti kentang dan roli. Kelas sosial rendah dianggap oleh beberapa orang sebagai pemalas dan itu disebabkan karena tidak makan daging atau protein dengan cukup. F.litisme dan keangkuhan mendominasi sebagian besar orang yang berkecimpung dalam bidang nutrisi, bidang ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, di abad ke-19. Seluruh konsep bahwa yang lebih besar adalah lebih baik, lebih beradab, dan bahkan mungkin lebih spiritual, tinggal dalam setiap pemikiran tentang protein.

Mayor McCay, seorang dokter terkemuka asal Inggris di awal abad ke-20, bertanggung jawab atas episode sejarah yang lebih menghibur, tetapi juga paling menyedihkan. Dokter McCay ditugaskan di koloni Inggris pada tahun 1912 untuk mengidentifikasi pria-pria yang termasuk dalam “petarung yang baik” dari suku-suku di India. Di antara banyak hal. ia mengatakan bahwa orang-orang yang mengonsumsi lebih sedikit protein adalah seorang yang “lemah secara fisik dan hanya dapat diharapkan menjadi seorang banci menyedihkan”.

KESIMPULAN
KELUARGA PROTEIN. Kisah tentang protein sebagian adalah tentang ilmu pengetahuan, sebagian budaya, dan sebagian besar mitologi

 

SUMBER                               : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA : Berpikir Positif

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *