Konjugasi Asam Linoleat

 

Industri susu tidak berhenti hanya sampai anak-anak. Untuk kalangan dewasa, industri susu menggunakan penekanan yang kuat pada “ilmu pengetahuan’ dan komunikasi hasil penelitian yang telah dikonstruksikan agar menunjukkan manfaat mengonsumsi makanan dari susu. Industri susu menghabiskan USS4-5 juta dolar per tahun untuk mendanai penelitian. Tujuannya adalah menemukan sesuatu yang menyehatkan untuk dijual. 1 Sebagai tambahan, bagian promosi industri susu mempekerjakan sebuah Dewan Penasihat Medis yang terdiri atas dokter, akademis, dan tenaga profesional kesehatan lainnya. Ilmuwan-ilmuwan tersebut adalah mereka yang muncul di muka umum sebagai tenaga medis profesional, menyediakan pernyataan yang berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung manfaat menyehatkan yang dimiliki susu.

Klub Bandara Udara adalah salah satu contoh dari usaha industri untuk mempertahankan citra produk dan “keperc ayaan” yang baik. Selain dengan mengawasi proyek-proyek yang berpotensi membahayakan, Klub Bandara Udara juga mencoba membangun penelitian yang mungkin dapat memperlihatkan bahwa kanker dapat dicegah dengan mengonsumsi susu. Itu akan menjadi sebuah kudeta yang luar biasa! I’ada saat itu, industri mulai merasa waswas akan banyaknya bukti yang bermunculan mengenai konsumsi makanan berbasis hewani dikaitkan dengan kanker dan penyakit-penyakit lainnya.

Strategi mereka untuk penelitian semacam itu adalah kelompok asam lemak yang tidak biasa, yang diproduksi oleh bakteri dalam lambung sapi. Asam lemak tersebut secara kolektif disebut asam linoleat terkonjugasi (conjugated linoleicacid/CLA). CLA ini diproduksi dari asam linoleat yang biasa ditemukan dalam lagung yang dimakan oleh sapi. Dari lambung sapi, CLA diserap dan disimpan dalam daging dan susu. yang pada akhirnya dikonsumsi oleh manusia.

Hari yang menyenangkan bagi Klub Bandara Udara adalah saat upi coba awal pada tikus percobaan yang menyimpulkan CLA dapat membantu memblokir pembentukan tumor lambung yang disebabkan oleh karsinogen kimia yang lemah, yang disebut benzo(a)pyrvnc Namun, ada sesuatu di balik penelitian ini. Para peneliti memberikan CLA terlebih dulu kepada tikus, kemudian baru memberikan bemofafpyrene. Urutan pemberian senyawa kimia ini terbalik. Di dalam tubuh, ada sebuah sistem enzim yang berlungsi meminimalkan iumlah kanker yang disebabkan karsinogen. Saat sebuah unsur kimia seperti CLA dikonsumsi terlebih dulu maka C1.A “memicu” sistem enzim tersebut sehingga aktivitasnya meningkat. Jadi. triknya adalah memberikan CLA terlebih dulu untuk memicu sistem enzim, kemudian dilanjutkan pemberian karsinogen. Dengan urutan seperti ini, sistem enzim yang telah terpicu oleh CLA akan menjadi lebih efektif dalam melawan karsinogen. Hasilnya, CLA dapat disebut sebagai antikarsinogen.

Saya akan memberi sebuah analogi untuk situasi di atas. Misalkan Anda memiliki sekantong pestisida yang kuat di garasi. Di kantong pestisida tersebut tertulis, “langan ditelan! Jika tertelan, hubungi petugas kesehatan pengontrol keracunan di tempat Anda,” atau peringatan semacam itu. Namun. Anda tidak sengaia memakan segenggam penuh pestisida tersebut. Pestisida di dalam tubuh Anda akan “membangunkan” sistem enzim di semua sel tubuh yang bertanggung iawab menghancurkan benda-benda asing yang membahayakan. Iika kemudian Anda ke dapur dan memakan segenggam kacang tanah yang penuh allatoxin, sistem enzim tubuh Anda telah siap menghadapi allatoxin tersebut. Hasilnya, Anda akan lebih sedikit terkena tumor yang disebabkan allatoxin. ladi. pestisida yang tidak diragukan menyebabkan berbagai kerusakan dalam tubuh Anda, adalah sebuah antikarsinogen! Skenario ini sangat tidak masuk akal dan penelitian dengan tikus yang menunjukkan bahwa CLA merupakan sebuah senyawa antikarsinogen sama tidak masuk akalnya. Namun, hasil akhir dari penelitian dengan tikus tersebut terdengar cukup baik bagi mereka yang tidak mengetahui metodologi mi (termasuk sebagian besar peneliti).

Anggota Klub Bandara Udara mengepalai penelitian yang mempelajari CLA secara mendetail.” ,s Kemudian, di Roswell Park Memorial Institute for Cancer Research di Buff alo, seorang peneliti yang sangat andal dan kelompoknya memperdalam penelitian itu dan membuktikan bahwa CLA tidak hanya sekadar memblokir langkah pertama dalam pembentukan tumor, CLA juga memperlambat pertumbuhan tumor'”‘ jika dikonsumsi setelah karsinogen. Hasil ini merupakan bukti yang lebih meyakinkan bahwa CLA memiliki kemampuan sebagai antikanker daripada penelitian awal,” yang hanya menunjukkan penghambatan inisiasi tumor.

Penelitian itu merupakan dua langkah besar menjauh dari kanker pada manusia. Pertama, penelitian itu tidak memperlihatkan bahwa susu sapi yang mengandung CLA, sebagai makanan yang utuh (sebagai lawan dari unsur kimia CLA yang terisolasi), dapat mencegah kanker pada tikus. Kedua, bahkan jika efek semacam itu benar-benar terjadi pada tikus, masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut efeknya terhadap manusia. Pada kenyataannya, jika susu sapi memiliki efek, efeknya adalah meningkatkan kanker, dan bukan menurunkan. Nutrisi dalam susu yang jauh lebih signifikan adalah protein, yang sifatnya berpotensi mempromosikan kanker selalu konsisten dengan data dari penelitian manusia.

Dengan kata lain. untuk dapat membuat klaim apa pun mengenai CLA dalam susu dan efeknya pada kanker manusia, masih diperlukan lompatan keyakinan yang sangat jauh. Namun, jangan pernah ragukan kegigihan (baca: uang) dari mereka yang menginginkan publik memercayai bahwa susu sapi dapat mencegah kanker. Lihatlah tajuk berita di sebuah surat kabar lokal baru-baru ini, Ithaca Journal, yang menyatakan bahwa “Mengubah Pola Makan Sapi Dapat Meningkatkan Produksi Susu Anti-Kanker”.1” Artikel ini menyangkut penelitian dari Profesor Cornell, yang menunjukkan bahwa ia dapat meningkatkan CLA dalam susu sapi dengan memberi makan hewan dengan lebih banyak minyak jagung.

Artikel pada Ithaca Journal, walaupun hanya sebuah media lokal, benar-benar sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bagi program sponsor Klub Bandara Udara. Bauman, Pariza, dan banyak rekan mereka19 yang bersemangat menjalani penelitian semacam ini selama 15 tahun terakhir telah memublikasikan karya ilmiah yang sangat banyak. Meskipun efek bermanfaat dari CLA dikatakan memang ada, tetapi penelitian kunci masih saja belum dilakukan, yaitu menguji apakah konsumsi susu dari sapi yang diberi pola makan kaya minyak jagung benar-benar menurunkan risiko kanker pada manusia.

Yang lebih baru, Bauman dan rekannya telah mencoba melangkah maju dan menemukan hubungan penting. Mereka telah membuktikan bahwa lemak susu dari sapi yang diberi makan minyak jagung dalam jumlah banyak (yaitu asam linoleat, senyawa induk CLA), seperti halnya CLA sintetis, dapat menurunkan tumor pada tikus yang diberi karsinogen.2” Namun lagi-lagi. mereka menggunakan metode eksperimen yang licik. Mereka memberikan lemak susu sebelum, bukan sesudah karsinogen. Meskipun demikian, mereka tetap mengklaim bahwa mi adalah kali pertama CI.A, dalam bentuk makanan (yaitu lemak), terbukti memiliki etek antikarsinogen selayaknya unsur kimia CLA yang terisolasi. Teriemahannya: konsumsilah mentega yang dibuat dari sapi yang makan minyak lagung karena dapat mencegah kanker!

KESIMPULAN
Konjugasi Asam Linoleat adalah Strategi mereka untuk penelitian semacam itu adalah kelompok asam lemak yang tidak biasa, yang diproduksi oleh bakteri dalam lambung sapi. Asam lemak tersebut secara kolektif

 

SUMBER                                          : RAHASIA SEHAT ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : TIPS PENCEGAHAN RUAM POPOK

 

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *