Lemak dan Kanker Payudara

Lemak dan Kanker Payudara

Jika kita mengandaikan ada sebuah parade nutrisi, dan setiap nutrisi memiliki spanduk, spanduk yang paling besar pastilah milik lemak. Begitu banyak orang, mulai dari peneliti hingga pendidik, mulai dari para pembuat kebijakan pemerintah hingga perwakilan industri, telah meneliti atau membuat pernyataan tentang lemak untuk waktu yang sangat lama. Orang-orang dari berbagai komunitas telah membangun kultur ini selama lebih dari setengah abad.

Saat parade aneh tersebut mulai bergerak dari Main Street, Amerika, perhatian semua orang yang duduk di pinggir jalan langsung tertuju ke spanduk milik lemak. Kebanyakan orang akan melihat spanduk tersebut dan berkata, “Saya harus menjauhinya,” dan kemudian makan sebagian kecil lemak. Sebagian orang akan mengusung spanduk lemak tak jenuh dan mengatakan bahwa lemak tersebut sehat serta hanya lemak jenuh lah yang jahat. Banyak ilmuwan akan menuding ke arah spanduk lemak dan mengklaim bahwa badut-badut penyebab penyakit tantung dan kanker bersembunyi di balik spanduk tersebut. Sementara itu. beberapa orang yang menyatakan dirinya pakar diet, seperti mendiang Dr. Robert Atkins, akan menarik meja di sekitar spanduk dan mulai menjual buku. Saat malam menjelang, rata rata orang yang berkerumun di sekitar spanduk akan menggaruk kepala dan merasa bingung, bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan dan mengapa.

Ada alasan baik bagi konsumen rata-rata untuk menjadi bingung. Pertanyaan yang tak teriawab selama lebih dari 40 tahun mengenai lemak tetaplah tidak teriawab: berapa banyak lemak yang harus tersedia dalam menu makan? Lemak jenis apa? Apakah lemak tak jenuh ganda lebih baik daripada lemak jenuh? Apakah lemak mono tak jenuh lebih baik daripada keduanya? Bagaimana dengan lemak spesial, seperti omega-3. omega 6, lemak trans, dan DHA? Apakah kita harus menghindari lemak dari kelapa? Bagaimana dengan minyak ikan? Apakah ada sesuatu yang istimewa dari minyak rami? Apa pula yang dimaksud dengan diet tinggi-lemak? Diet rendah-lemak?

Ini bisa sangat membingungkan, bahkan bagi seorang ilmuwan terlatih pun. Seperti yang Anda akan saksikan, melihat bagaimana jaringan unsur-unsur kimia berperilaku, dan bukan terisolasi dengan satu unsur kimia, jauh lebih berguna.

Namun, dalam beberapa cara, kebodohan tentang aspek-aspek terisolasi dari konsumsi lemak adalah guru yang mengaurkan kita pelajaran terbaik. Oleh karena itu, mari kita lihat kisah tentang lemak yang muncul pada -U) tahun terakhir dengan lebih dekat. Kisah ini akan menjelaskan mengapa masyarakat begitu bingung, baik tentang lemak maupun tentang pola makan secara umum.

Secara rata-rata, kita mengonsumsi 35-40% dari keseluruhan kalori dari lemak.1‘* Kita telah menjalani diet tinggi lemak sejak akhir abad ke 19, di awal revolusi industri. Karena memiliki lebih banyak uang, kita mulai mengonsumsi lebih banyak daging dan susu, yang secara relatif memiliki kadar lemak tinggi. Kita mendemonstrasikan kemakmuran dengan mengonsumsi makanan semacam itu.

Kemudian, kita tiba pada pertengahan abad ke-20. saat para ilmuwan mulai mempertanyakan anjuran mengonsumsi menu makan yang memiliki kandungan lemak yang begitu tinggi. Rekomendasi pola makan, baik tingkat nasional maupun internasional/®u disusun dan menyarankan bahwa kita sebaiknya mengurangi asupan kalori dari lemak sampai di bawah 30%. Hal itu bertahan hingga beberapa dekade, tetapi sekarang, ketakutan yang menyelimuti diet tinggi lemak tidak lagi tertahankan. Beberapa orang penulis buku laris bahkan mengusulkan meningkatkan asupan lemak! Beberapa peneliti ahli menyatakan bahwa tidak perlu untuk sampai di bawah 30%, selama kita mengonsumsi jenis lemak yang benar.

Angka 30% telah menjadi patokan, walaupun tidak terdapat bukti yang dapat mendukung hal tersebut. Mari kita tilik angka tersebut dengan menelaah kandungan lemak dalam beberapa jenis makanan, seperti yang terlihat di Tabel 4.6.

 

Lemak dan Kanker Payudara

Lemak dan Kanker Payudara

 

Dengan beberapa pengecualian, makanan berbasis hewani mengandung lumlah lemak yang lebih tinggi daripada makanan berbasis nabati.” Ini jelas terlihat dengan membandingkan jumlah lemak dalam pola makan di negara lain. Korelasi antara asupan lemak dan protein hewani lebih dari 90%/’ Ini berarti asupan lemak meningkat berbanding lurus dengan asupan protein hewani. Dengan kata lain, lemak dalam makanan adalah sebuah indikator untuk mengetahui berapa banyak makanan berbasis hewani dalam pola makan.

 

KESIMPULAN
Lemak Berlebihan dan Kanker Payudara
adalah hal yang paling mengerikan kita alami, maka itu jika Anda tidak mau mengalami hal tersebut, jaga lah Kesehatan & Pola Makan Anda secara teratur & Tepat.

SUMBER                                  : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Indikasi Pankreas

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *