Lemak dan Sebuah Fokus pada Kanker

Lemak dan Sebuah Fokus pada Kanker

Laporan National Academy of Sciences (NAS) pada 1982 (enlang diet, nutrisi, dan kanker, yang kebetulan saya adalah salah satu penulisnya, adalah laporan panel ahli pertama yang diaiukan mengenai asosiasi lemak dalam makanan dengan kanker. Laporan ini adalah yang pertama merekomendasikan asupan lemak maksimal 30% dari kalori untuk mencegah kanker. Sebelumnya, U. S. Senate Select Committee on Nutrition yang diketuai Senator George McGovern* mengadakan rapat dengar pendapat yang dipublikasikan secara luas tentang pola makan dan penyakit jantung. Dalam rapat tersebut, direkomendasikan batas maksimal asupan lemak dalam makanan sebanyak 30%. Walaupun laporan McGovern menyebabkan perpecahan publik mengenai pola makan dan penyakit jantung, laporan NAS tahun 1982 lah yang menjadi momentum perdebatan tersebut Fokusnya terhadap kanker, dan bukan penyakit lantung. meningkatkan ketertarikan dan kekhawatiran publik. Hal itu menyebabkan beitambahnya aktivitas penelitian dan kesadaran publik mengenai pentingnya pola makan dalam pencegahan penyakit.

Banyak laporan pada waktu itu berpusat kepada pertanyaan berapa banyak lemak dalam makanan yang sesuai untuk mencapai kesehatan prima. Perhatian unik yang dicurahkan kepada lemak termotivasi oleh penelitian bei taraf internasional yang menusukkan bahwa |umlah lemak dalam makanan yang dikonsumsi memiliki asosiasi yang sangat kuat dengan kejadian kanker payudara, kanker usus. dan penyakit lantung Penyakit penyakit tersebut adalah penyebab utama kematian di negara-negara Barat. Sangat jelas bahwa korelasi tersebut menarik banyak perhatian publik. C.’hina Study dimulai di tengah-tengah keadaan lingkungan yang demikian.

Penelitian terbaik yang pernah dilakukan,” menurut pendapat saya, adalah penelitian oleh mendiang Ken Carroll, seorang profesor di University of Western Ontario di Kanada. Kesimpulannya menuniukkan hubungan yang sangat menawan antara lemak dalam makanan dan kanker payudara (Gratik 4.7).

Temuan ini. yang dikaitkan dengan laporan-laporan awal lainnya,11” meniadi sangat menarik saat dibandingkan penelitian tentang migrasi.” Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang melakukan migrasi dan memulai pola konsumsi yang khas di tempat tinggal baru diasumsikan mengalami risiko penyakit yang umum ditemukan di daerah tu)uan mereka. Ini sangat jelas menunjukkan bahwa pola makan dan gaya hidup adalah penyebab dasar dari penyakit-penyakit tersebut. Penelitian ini juga menyiratkan bahwa sesungguhnya gen tidak begitu penting. Seperti yang telah dicatat sebelumnya, sebuah laporan yang sangat tepercaya oleh Sir Richard Doll dan Sir Richard Peto dari Universitas Oxford (Inggris Raya) yang diajukan pada Kongres Amerika Serikat meringkas banyak dari penelitian tersebut dan menyimpulkan bahwa hanya 2-3% dari keseluruhan kanker yang disebabkan oleh gen.4

Apakah data dari penelitian internasional dan penelitian tentang migrasi ini mengartikan kita dapat menurunkan tingkat kanker payudara hingga ke titik nol jika memilih menjalani gaya hidup sempurna? Informasi yang kita peroleh jelas mengindikasikan hal tersebut. Melihat bukti yang ditusukkan dalam Gralik 4.7, solusinya sangat jelas: jika makan lebih sedikit lemak, kita juga akan menurunkan risiko kanker payudara. Kebanyakan ilmuwan setuju dengan kesimpulan tersebut dan beberapa lainnya menambahkan bahwa lemak dalam makanan adalah penyebab kanker payudara. Namun, interpretasi seperti itu terlalu menggampangkan. Grafik lain yang disusun oleh Profesor Carroll (Grafik 4.8 dan 4.9) menunjukkan bahwa kanker payudara diasosiasikan dengan asupan lemak hewani dan tidak dengan lemak nabati.

Lemak dan Sebuah Fokus pada Kanker 2

Lemak dan Sebuah Fokus pada Kanker

Lemak dan Sebuah Fokus pada Kanker

 

Di daerah rural China, asupan lemak dalam makanan (pada waktu dilakukan survei tahun 1983) sangat berbeda dengan di Amerika, dilihat dalam dua cara. Pertama, asupan lemak hanya berkisar 14,5% dari kalori di China, dibandingkan sekitar 36% di Amerika. Kedua, jumlah lemak dari pola makan di daerah rural China hampir sepenuhnya bergantung kepada jumlah makanan berbasis hewani dalam pola makan, sama seperti yang ditunjukkan Grafik 4.7. Korelasi antara lemak dalam makanan dan protein hewani di daerah rural China sangat tinggi, berkisar 70-84%,” serupa dengan angka 93% yang ditunjukkan dalam perbandingannya dengan negara-negara lain.

Hal ini penting sebab penelitian di China dan internasional, konsumsi lemak adalah satu-satunya indikasi dari konsumsi makanan berbasis hewani. Oleh sebab itu, asosiasi antara lemak dan kanker payudara mungkin sesungguhnya menjelaskan bahwa seiring meningkatnya konsumsi makanan berbasis hewani, risiko kanker payudara pun meningkat. Ha! itu bukan yang terjadi dengan orang Amerika, yang secara selektif menambah atau menghilangkan lemak dari makanan dan pola makan. Orang Amerika mendapatkan lemak dari makanan berbasis nabati (keripik kentang, kentang goreng) sama atau lebih banyak daripada jumlah lemak yang mereka peroleh dari makanan berbasis hewani (susu skim, daging tanpa lemak). China tidak terlalu pemilih dengan lemak seperti yang Amerika lakukan.

Pada tingkat lemak dalam makanan yang begitu rendah di China, berkisar 6-24%, awalnya saya berpikir bahwa lemak dalam makanan tidak akan terkait dengan penyakit jantung atau berbagai kanker, seperti halnya di negara Barat. Beberapa orang di Amerika—seperti banyak rekan saya di dunia penelitian dan medis—menyebut pola makan 30% lemak sebagai diet “rendah-lemak”. Oleh sebab itu, diet rendah-lemak hanya mencakup 25-30% lemak yang dirasa cukup untuk memperoleh keuntungan maksimal bagi kesehatan. Ini mengindikasikan bahwa asupan lemak yang lebih rendah lagi tidak akan memiliki manfaat. Kejutan!

Temuan di daerah rural China menunjukkan bahwa menurunkan lemak dalam makanan dari 34% ke 6% diasosiasikan dengan risiko kanker payudara yang lebih rendah. Meski demikian, lemak dalam makanan yang lebih rendah di China tidak berarti hanya lebih sedikit lemak, tetapi lebih sedikit makanan berbasis hewani.

Hubungan antara kanker payudara dan lemak dalam makanan berbasis hewani juga memperhitungkan faktor-faktor lain yang memiliki andil dalam risiko seorang perempuan menderita kanker payudara, antara lain sebagai berikut.

• Usia akil-balig (usia pertama kali menstruasi).

• Kolesterol darah yang tinggi.

• Masa menopause yang terlambat.

• Paparan tingkat tinggi terhadap hormon perempuan.

Apa yang ditunjukkan oleh China Study mengenai faktor faktor risiko tersebut? Lemak yang lebih tinggi dalam makanai diasosiasikan dengan kadar kolesterol darah yang lebih tinggi.1 kedua faktor tersebit dan tingkat hormon perempuan yang tinggi juga diasosiasikan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi dan usia akil-balig yang lebih dini.1

Kebanyakan usia akil balig di daerah rural China sungguh menakjubkan. Dua puluh lima perempuan dari setiap 130 desa dari survei diberikan pertanyaan kapan mereka mendapatkan periode menstruasi untuk pertama kalinya. Rata-rata tiap desa adalah 15 sampai 19. dengan rata rata umum sekitar 17 tahun. Di Amerika rata-rata adalah U tahun!

Banyak penelitian menyimpulkan bahwa usia akil-balig yang lebih dini menyebabkan risiko yang lebih tinggi terserang kanker payudara. Menstruasi dipicu dari tingkat pertumbuhan seorang gadis. Semakin cepat ia tumbuh, semakin dini usia matangnya. Juga merupakan konsensus umum bahwa pertumbuhan gadis muda yang cepat sering menyebabkan tinggi, berat, dan lemak tubuh berlebih, yang semuanya diasosiasikan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi. Usia akil-balig dini. baik di China maupun di Amerika, juga menyebabkan tingkat hormon dalam darah, seperti estrogen, lebih tinggi. Hormon-hormon tersebut tetap berada di tingkat yang tinggi selama masa reproduktif jika konsumsi kaya makanan berbasis hewani tetap dipertahankan. Dengan kondisi seperti ini. masa menopause tertunda selama 3-4 tahun.1 |adi, hal ini memperpanjang masa reproduktif dari awal hingga akhir selama 9-10 tahun, artinya meningkatkan paparan hormon perempuan dalam tubuh. Penelitian lain menunjukkan bahwa peningkatan waktu reproduktif memiliki asosiasi dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi.

Konsumsi lemak yang lebih tinggi diasosiasikan dengan kadar estrogen yang lebih tinggi dalam darah selama usia kritis, antara 35-44 tahun ‘ dan kadar hormon perempuan prolactin yang lebih tinggi dalam darah di usia selaniutnya. antara 45-64. Hormon-hormon tersebut sangat berkorelasi dengan asupan protein hewani.”1 susu.1” dan daging.” Sangat disayangkan, kami tidak dapat mendemonstrasikan apakah tingkat hormon-hormon tersebut secara langsung berhubungan dengan risiko kanker payudara di ( hina karena tingkat kejadian penyakit ini begitu rendah.’ Saat tingkat hormon perempuan China dibandingkan dengan perempuan Inggris,” tingkat estrogen perempuan China hanya sekitar setengah dan tingkat estrogen perempuan Inggris, yang memiliki profil hormon setara dengan prohl hormon perempuan Amerika. Karena rentang waktu reproduktif perempuan China hanya sekitar 75% dari perempuan Inggris (atau Amerika), dengan tingkat hormone estrogen yang lebih rendah, perempuan China hanya mengalami paparan estrogen sebanyak 35-40% sepanjang hidupnya dibandingkan perempuan Inggris (dan Amerika). Ini berkaitan dengan tingkat kejadian kanker payudara perempuan China yang hanya seperlima dari para perempuan di dunia Barat.

Asosiasi kuat antara protein-tinggi hewani dan makanan tinggi-lemak dengan hormon-hormon reproduksi dan usia awal akil-balig, yang sama-sama meningkatkan risiko kanker payudara, adalah sebuah observasi yang sangat penting. Sudah jelas kita seharusnya tidak membiarkan anak-anak mengonsumsi menu kaya makanan berbasis hewani. |ika Anda seorang perempuan, apakah Anda pernah membayangkan bahwa mengonsumsi pola makan yang kaya makanan berbasis hewani akan memperpanjang waktu reproduktif Anda selama 9 tahun? Selain itu. ada hal lain yang muncul dari observasi ini, seperti yang dikemukakan oleh Ms. Gloria Steinem, seorang pendiri salah satu majalah, yaitu mengonsumsi makanan yang benar dapat mengurangi kehamilan remaja dengan menunda usia akil-balig.

Selain temuan tentang hormon, adakah cara lain untuk menunjukkan bahwa asupan makanan berbasis hewani berhubungan dengan tingkat kanker secara keseluruhan? Hal ini agak sulit, tetapi satu faktor yang kami perhitungkan adalah berapa banyak kanker yang terjadi dalam sebuah keluarga. Dalam China Study, asupan protein hewani secara meyakinkan berasosiasi dengan meratanya kanker dalam keluarga.1:1 Asosiasi ini merupakan sebuah observasi yang menakjubkan dan signifikan, mengingat bahwa asupan protein hewani mereka begitu rendah.

Faktor pola makan dan penyakit, seperti konsumsi protein hewani atau kejadian kanker payudara menyebabkan perubahan konsentrasi beberapa unsur kimia dalam darah. Unsur-unsur kimia tersebut dikenal dengan biomarker (penanda biologis). Sebagai contoh, kolesterol darah adalah biomarker untuk penyakit jantung. Kami mengukur enam biomarker dalam darah yang memiliki asosiasi dengan asupan protein hewani.1‘ Apakah biomarker tersebut mengonfirmasi temuan bahwa asupan protein hewani memiliki asosiasi dengan kanker dalam keluarga? Tentu saja. Setiap biomarker darah yang terkait dengan protein hewani secara signifikan berasosiasi dengan jumlah kanker dalam keluarga. 111

Dalam kasus ini, kami melakukan serangkaian observasi yang dirancang ketat sehingga membentuk semacam jaringan. Observasi kami menunjukkan makanan berbasis hewani sangat berkaitan dengan kanker payudara. Berikut ini dua buktinya. Pertama, bagian individual dari jaringan tersebut secara konsisten berkorelasi, dan pada kebanyakan kasus, memiliki signifikansi statistik. Kedua, efek ini terjadi pada tingkat asupan makanan berbasis hewani yang begitu rendah.

Penelidikan kami atas kanker payudara (akan dirinci lebih lanjut pada Bab 8) adalah contoh sempurna yang membuat hasil dari China Study begitu meyakinkan.

KESIMPULAN

Lemak dan Sebuah Fokus pada Kanker, Faktor pola makan dan penyakit, seperti konsumsi protein hewani atau kejadian kanker payudara menyebabkan perubahan konsentrasi beberapa unsur kimia dalam darah

 

SUMBER                                  : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Indikasi Pencernaan

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *