Manfaat Protein Bagi Tubuh

Celah Protein

Isu paling penting dalam bidang nutrisi dan agrikultur pada awal karier saya adalah mencari cara meningkatkan konsumsi protein serta memastikan sebisa mungkin protein yang dikonsumsi memiliki kualitas terbaik. Saya dan seluruh rekan sangat percaya diri akan maksud dan tujuan mulia tersebut. Sejak awal kehidupan di peternakan hingga menjadi sarjana, saya menerima referensi virtual protein tersebut. Sebagai seorang yang belia, saya ingat bagian termahal dari pakan ternak adalah suplemen protein yang kami berikan untuk babi dan sapi. Kemudian pada jenjang pascasarjana, saya menghabiskan 3 tahun (1938-1961) untuk penelitian Ph.D. mencoba memperbaiki suplai protein berkualitas tinggi dengan meningkatkan efisiensi pertumbuhan sapi dan domba sehingga kita dapat lebih banyak mengonsumsi hewan-hewan tersebut.”

Saya menyelesaikan seluruh pendidikan sarjana dengan kepercayaan bahwa mendukung protein berkualitas tinggi, seperti yang terkandung dalam makanan berbaris hewani, adalah tugas terpenting. Selama tahun 1960-1970-an, saya berkali-kali mendengar tentang “celah protein” di negara-negara berkembang.

Celah protein diasumsikan bahwa kelaparan dan malnutrisi di seluruh dunia terhadap anak-anak, terutama di negara dunia ketiga, adalah akibat tidak tersedianya cukup protein untuk dikonsumsi, terutama protein berkualitas tinggi (baca: hewan ternak). Menurut pandangan ini, mereka yang hidup di belahan dunia ketiga mengalami kekurangan protein, khususnya protein “berkualitas tinggi” alau protein hewani. Proyek-proyek bermunculan di segala tempat untuk mengatasi permasalahan “celah protein” tersebut. Seorang profesor terkemuka dari MIT dan seorang rekannya pada tahun 1976 berkesimpulan bahwa “suplai protein yang mencukupi adalah aspek sentral dalam permasalahan pangan duniaV selanjutnya “kecuali, perlu sekali ditambahkan susu. telur, daging, atau ikan dalam jumlah memadai, pola makan mengonsumsi sereal dari negara-negara miskin tidaklah cukup mengandung protein untuk anak yang sedang tumbuh …” Untuk mengatasi masalah memprihatinkan ini: MIT mengembangkan suplemen makanan kaya protein, yang diberi nama INCAPARINA.

Purdue University mengembangkan jagung yang mengandung lebih banyak lysine, asam amino “yang kurang” dalam protein jagung.

• Pemerintah Amerika menyubsidi produksi susu bubuk untuk menyediakan protein berkualitas tinggi untuk negara-negara miskin.

• Universitas Cornell menyumbangkan sumber daya manusia sangat banyak kepada Filipina untuk membantu pengembangan varietas beras kaya protein dan industri ternak.

• Universitas Auburn dan MIT menggiling ikan untuk memproduksi “konsentrat protein ikan” sebagai konsumsi negara-negara miskin.

PBB. U.S. Government Food for Peace Program, universitas-universitas besar, serta organisasi dan universitas lainnya yang tak terhitung jumlahnya, ikut serta memusnahkan krisis pangan dunia dengan protein berkualitas tinggi.

Food dan Agriculture Organization (FAO) milik PBB menyebarkan pengaruh cukup besar di negara-negara berkembang melalui program pengembangan agrikultur mereka. Pada tahun 1970, dua staf senior FAO menyatakan bahwa “… tidak diragukan lagi, kurang tersedianya protein adalah permasalahan kualitatif paling serius di negara-negara berkembang. Sebagian besar penduduk negara-negara tersebut menggantungkan hidupnya pada berbagai makanan dari tumbuhan yang kurang mengandung protein dan berakibat pada buruknya kesehatan dan rendahnya produktivitas masing-masing individu.” M. Autret, seorang yang sangat berpengaruh di FAO, menambahkan bahwa “Bergantung pada menu makan yang mengandung protein hewani rendah dan kurangnya keanekaragaman suplai di negara berkembang, membuat kualitas protein sangat tidak memuaskan.”4 la melaporkan sebuah hubungan sangat erat antara konsumsi makanan berbasis hewani dan pendapatan per tahun. Autret sangat menyarankan meningkatkan produksi dan konsumsi protein hewani agar dapat menutupi “celah protein” yang terus bertambah besar di dunia, la juga menyarankan, “Semua sumber daya penelitian dan teknologi harus dimobilisasi untuk menciptakan makanan baru kaya protein atau mengalihkan sumber daya secara optimal karena pemanfaatannya hingga sekarang tidak akan cukup untuk menyediakan bahan pangan bagi umat manusia.

Bruce Stilling dari University of Maryland dan U.S. Department of Commerce, seorang pendukung konsumsi menu makan berbasis hewani, pada tahun 1973 mengakui bahwa “Walaupun tidak ada keharusan bagi protein hewani dalam menu makan per se, tetapi kuantitas protein dalam makanan dari protein hewani biasanya diterima sebagai indikasi total kualitas protein dalam pola makanla melanjutkan,”… suplai produksi hewan ternak dalam kuantitas yang memadai secara umum dianggap sebagai cara ideal untuk memperbaiki kondisi nutrisi protein dunia.”

Tentu saja, cukup benar jika dikatakan bahwa pasokan protein dapat menjadi cara penting untuk memperbaiki nutrisi di dunia ketiga, terutama jika mayoritas populasinya memperoleh kalori bersumber dan satu jenis tumbuhan. Namun, itu bukan satu-satunya cara dan bukan cara yang paling sejalan dengan kesehatan jangka panjang.

 

KESIMPULAN
Manfaat Protein Bagi Tubuh Celah Protein bagi tubuh manusia memang sangat penting, maka itu jagalah kesehatan Anda dengan Porsi Protein yang cukup bagi tibh Anda.

 

SUMBER                               : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA  : Emosi juga mempengaruhi hati

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *