Memberi Makan Anak-Anak

Memberi Makan Anak-Anak

ladi. begitulah iklim pada saat itu dan saya adalah bagian darinya, seperti halnya orang lain. Saya meninggalkan MIT untuk meniabat sebuah posisi di Virginia Tech pada tahun 1965. Profesor Charlie Fngel, yang kemudian meniabat sebagai kepala Department of Biochemistry and Nutrition (Departemen Biokimia dan Nutrisi) di Virginia Tech. tertarik mengembangkan program nutrisi internasional untuk anak-anak penderita malnutrisi. Beliau sangat tertarik mengimplementasikan sebuah proyek mandiri di Filipina. Proyek ini disebut “keterampilan tangan ibu ibu” karena berfokus mengedukasi para ibu dari anak-anak penderita malnutrisi. Idenya adalah jika sang ibu diajari jenis makanan yang tepat, yang tumbuh di sekitarnya, mereka dapat membual anak-anaknya lebih baik dan tidak harus bergantung pada obat-obatan langka dan tenaga medis yang tidak tersedia. Engel mengawali program ini pada tahun 1976. la meminta saya menjadi koordinator kampusnya dan berkunjung cukup lama ke Filipina, sedangkan ia sendiri tinggal penuh waktu di Manila.

Konsisten dengan pemikiran protein sebagai sebuah cara penyelesaian malnutrisi, kami harus meniadikan nutrisi tersebut sebagai titik fokus dalam edukasi di pusat “keterampilan tangan ibu-ibu’ sehingga akan meningkatkan konsumsi protein. Ikan. sebagai sumber protein, umumnya terbatas pada daerah-daerah pesisir pantai. Kami sendiri lebih memilih mengembangkan kacang tanah sebagai sumber protein karena jagung dapat dikembangkan hampir di mana saja. Kacang tanah adalah polong-polongan, seperti alfalfa, kacang kedelai, semanggi, buncis, dan kacang kacangan 0

lain. Seperti tanaman “pengubah” nitrogen lainnya.

kacang tanah kaya akan protein.

Namun, ada sedikit masalah yang mengganggu dengan kacang yang nikmat ini. Terdapat cukup banyak bukti, pertama dari Inggris1* dan kemudian dari MIT (laboratorium yang sama dengan tempat saya bekerja)1*” yang menunjukkan bahwa kacang tanah sering terkontaminasi dengan sejenis jamur yang memproduksi racun, disebut allatoxin (AF). Ini sangat mengkhawatirkan karena AF secara ilmiah menunjukkan dapat menyebabkan kanker hati pada hewan percobaan. AF dianggap sebagai unsur kimia paling berpotensi karsinogen yang pernah ditemukan. Jadi, kami harus mengatasi dua proyek yang sangat terkait: meringankan malnutrisi pada anak-anak dan menyelesaikan masalah kontaminasi AF.

Sebelum menuju ke Filipina, saya berkunjung ke Haiti untuk melakukan observasi atas beberapa pusat keterampilan tangan ibu-ibu, eksperimen yang diorganisasi oleh rekan-rekan saya, Profesor Ken King dan Kyland Webb di Virginia Tech. Itu adalah perjalanan pertama saya ke sebuah negara belum berkembang, dan Haiti tentu saja sangat sesuai. Papa Doc Duvalier, Presiden Haiti, telah menyaring sumber daya yang hanya sedikit dimiliki negerinya untuk membiayai gaya hidup gemerlapnya sendiri. Waktu itu di Haiti, sekitar 54% anak-anak meninggal sebelum menginjak usia 5 tahun, sebagian besar karena malnutrisi.

Selanjutnya, saya ke Filipina dan menemukan hal yang hampir sama. Kami memutuskan lokasi pusat keterampilan tangan ibu-ibu dibangun berdasarkan seberapa banyak kasus malnutrisi terjadi di setiap desa. Kami memfokuskan usaha pada desa-desa yang paling membutuhkan. Dalam survei awal di setiap desa (barrio), anak-anak ditimbang dan bobot tubuhnya dibandingkan sesuai usia dengan referensi standar Barat, yang akan menjadi dasar pengelompokan nutrisi tingkat satu, dua, atau tiga. Malnutrisi tingkat tiga. kelompok yang paling buruk, beranggotakan anak-anak dengan persentil di bawah tingkat ke-65. Harap dicatat bahwa seorang anak dengan persentil ke-100 hanya mengindikasikan anak rata-rata di Amerika. Berada di bawah persentil ke-65 artinya hampir kelaparan.

Di daerah-daerah urban di beberapa kota besar, sebanyak 15-20% anak-anak usia 3-6 tahun divonis sebagai kelompok tingkat ketiga. Saya masih ingat beberapa dari observasi awal terhadap anak-anak tersebut. Seorang ibu kurus kering, menggendong kedua anak kembarnya yang berusia 3 tahun. Mata kedua anaknya membengkak, yang satu berbobot 5,5 kg. yang lainnya 7 kg. Sang ibu berusaha membuka mulut kedua anaknya dengan bubur. Anak yang lebih tua menderita kebutaan karena malnutrisi. Anak anak tanpa kaki atau lengan berlompatan berebut makanan.

 

KESIMPULAN
Memberi Makan Anak-Anak melalui protein memang sangat penting. Kurang tersedianya protein adalah masalah kualitatif paling serius di Negara-negara berkembang. Maka itu kita sebagai penduduk Indonesia yang banyak tersedia makanan berprotein, jangan samapai Kita kekurangan unsur tersebut.

 

SUMBER                               : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA  : Fungsi Hati Pada Manusia

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *