Menelusuri Pola Makan dan Kanker

 


Selain mengatakan bahwa pola makan dan olahraga tidak berhubungan dengan kanker payudara, para peneliti Harvard juga mengikis pemahaman umum lainnya mengenai pola makan dan kanker. Sebagai contoh, penelitian di Harvard tidak dapat mendeteksi adanya hubungan antara kanker colorectal dengan asupan serat/buah dan sayuran.

Serat dalam makanan, hanya dapat diperoleh dari makanan berbasis nabati. Oleh sebab itu, temuan ini merupakan inti dari pemikiran bahwa serat/buah. sayuran, dan sereal dapat mencegah kanker saluran pencernaan. Ingat penelitian Harvard menggunakan subiek populasi karnovira yang seragam, hampir tidak satu pun dari mereka mengonsumsi pola makan berbasis tumbuhan utuh. yang secara alamiah rendah lemak dan kaya serat. Tampaknya efek perlindungan yang dimiliki serat/buah dan sayuran tidak benar-benar bereaksi melawan kanker colorectal hingga terjadinya perubahan pola makan setara menyeluruh, dari pola makan berbasis hewani meniadi berbasis nabati.

Setelah penelitian selama berdekade tersebut. Profesor Walt Willett mengatakan.

“Meningkatkan buah dan sayuran secara keseluruhan tampaknya tidak begitu menjanjikan sebagai sarana untuk mengurangi risiko kanker. Manfaat dari makanan tersebut tampaknya lebih besar untuk kardiovaskular daripada kanker.”

Pernyataan tersebut terdengar agak mengancam. Kanker colon, yang secara historis merupakan jenis kanker pertama yang dikatakan dapat dicegah oleh pola makan berbasis nabati,”  sekarang dikatakan tidak berkaitan dengan pola makan? Dan pola makan rendah lemak tidak mencegah kanker payudara? Dengan hasil semacam ini, hanya masalah waktu sebelum hipotesis hubungan makanan dengan kanker mulai runtuh. Kenyataannya, orang-orang dalam komunitas ilmiah mulai mengatakan bahwa pola makan tidak memiliki efek terhadap kanker.

Kesalahan meneliti sebuah populasi yang secara seragam mengonsumsi pola makan berisiko tinggi dan berusaha menemukan perbedaan dalam konsumsi salah satu jenis nutrisi pada satu waktu tidak hanya dilakukan oleh Nurses’ Health Study. Kesalahan ini umum dilakukan oleh semua penelitian yang menggunakan subjek populasi Barat.

Para peneliti I larvard telah beberapa kali melakukan survei dari analisis penelitian-penelitian tersebut. Salah satunya berkenaan dengan pertanyaan apakah daging dan produk susu memiliki efek terhadap kanker payudara. Survei yang dilakukan tahun 1993 tersebut melibatkan 19 penelitian” dan menunjukkan hasil yang memiliki signifikansi statistik, yaitu peningkatan risiko kanker payudara sebesar 18% dengan meningkatnya asupan daging dan peningkatan sebesar 17% dengan meningkatnya asupan susu. Para peneliti Harvard pada tahun 2002 kemudian meringkas sekelompok penelitian yang lebih baru. Kali ini, mereka melibatkan delapan penelitian prospekti! besar yang informasi makanannya dinilai lebih dapat diandalkan dan yang subiek penelitiannya lebih banyak Berikut ini kesimpulan dari para peneliti.

Kami tidak menemukan hubungan yang signifikan antara asupan daging atau produk susu dengan risiko kanker payudara.

Masyarakat akan mengatakan, “Baiklah, kalau begitu. Tidak ada bukti meyakinkan bahwa daging dan produk susu berhubungan dengan risiko kanker payudara.” Namun, mari kita telaah lebih saksama pada analisis yang seharusnya lebih rumit ini.

Kedelapan penelitian tersebut mewakili pola makan yang proporsi makanan berbasis hewaninya tinggi. Dampaknya, setiap penelitian dalam survei tersebut memiliki cacat yang sama, seperti pada Nurses’ Health Study. Meskipun ada 351.041 perempuan dan 7.379 kasus kanker payudara dalam pusat data super besar ini. hasil-hasil temuan yang diperoleh tidak dapat mendeteksi efek sebenarnya dari pola makan kaya daging dan susu terhadap risiko kanker payudara. Seperti halnya Nurses’ Health Study, penelitian-penelitian tersebut melibatkan pola makan yang khas Barat yang sangat condong kepada asupan makanan berbasis hewani. Setiap penelitian gagal dalam melibatkan pilihan makanan yang lebih luas—termasuk makanan yang menunjukkan efek positif terhadap risiko kanker payudara pada masa lampau.

 

KESIMPULAN
Menelusuri Pola Makan dan Kanker,
Selain mengatakan bahwa pola makan dan olahraga tidak berhubungan dengan kanker payudara, para peneliti Harvard juga mengikis pemahaman umum lainnya mengenai pola makan dan kanker. Sebagai contoh, penelitian di Harvard tidak dapat mendeteksi adanya hubungan antara kanker colorectal dengan asupan serat/buah dan sayuran.

SUMBER                                          : RAHASIA SEHAT ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Mekanisme Kanker Prostat

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *