Menopause Dini

Menopause Dini Belum Diketahui Pasti Penyebabnya

Menopuse atau berhentinya menstruasi pada perempuan, umumnya memang terjadi pada usia 50-an. Namun menurut dr Handi Suryana SpOG dari RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, tidak jarang menopause terjadi lebih dini, yaitu sebelum usia 40 tahun, yang seharusnya meru-pakan usia produktif.

“Bahkan, saat ini semakin banyak perempuan yang mengalami menopause dini. Kejadiannya satu di antara 1000 perempuan usia 15-29 tahun, dan satu di antara 100 perempuan usia 30-39 tahun,” terang dr Handi.

Handi menambahkan, sampai saat ini penyebab menopause dini memang belum diketahui secara pasti. Namun, penyebab yang paling sering adalah apa yartp disebut premature Ovarian faiiire, atau padamnya fungs’ indung telur sebelum waktunya.

“Jadi, indung telur tidak lagi menghasilkan sel telur, yang dalam kondisi normal menghasilkan sebagian besar estrogen dan progesteron. Akibat-nya, menstruasi pun jadi ber-henti,” jelas Handi.

Terapi Hormon

Penyebab lain yang juga cukup sering adalah operasi pe-ngangkatan indung telur atau terapi radiasi (kemoterapi).

Selain itu juga penyakit dan komplikasi lain, seperti neoplastic disorders, allergic dan autoimmune disorders, anorexia nervosa (gangguan makan di mana penderita memuntahkan kembali makannya dengan ha-rapan berat badannya tetap terjaga), serta stres dan konsumsi makanan yang tidak sehat.

Mengenai gejalanya, Handi menjelaskan bahwa gejala yang timbul pada menopause dini ku-rang lebih sama dengan menopause pada usia normal, yaitu disebabkan oleh menurunnya kadar hormon estrogen.

Penurunan hormon estrogen akan menyebabkan serangan panas, vagina kering, gangguan tidur dan berkurangnya libido.

“Gejala-gejala itu akan lebih dahsyat pada menopause dini yang terjadi mendadak, seperti pada operasi pengangkatan ke-dua indung telur,” tandasnya.

Namun, untuk memastikan apakah memang terjadi menopause atau tidak, menurut Handi, sebaiknya dilakukan peme riksaan kadar hormon dalam darah. Biasanya terjadi pening-katkan Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dari otak (lebih dari 40 mill per ml) dan penurunan hormon estrogen dari indung telur (kurang dari 32 pg per ml).

Dengan menurunnya hormon estrogen, perempuan yang sudah menopause akan mengalami peningkatan risiko penyakit, seperti osteoporosis, penyakit jantung, stroke, kanker kolon (usus), dan kanker indung telur.

“Karena itu, perempuan yang menopause dini yang tidak terlindungi estrogen lebih lama daripada perempuan yang menopause normal, maka resiko menderita penyakit jadi lebih tinggi,” kata Handi.

Handi menegaskan, menopause dini tidak dapat dicegah dan disembuhkan, tapi dapat di-kurangi dampaknya dengan beberapa cara berikut:

✓ Terapi pengganti hormon atau hormone replacement therapy (HRT), untuk mengganti sementara hormon estrogen yang sudah menurun.

Idealnya, terapi sulih hormon atau HRT tersebut dilakukan dalam waktu 5-6 tahun setelah menstruasi berhenti selama satu sampai dua tahun. Dengan begitu, efek buruk menstruasi tidak akan terjadi.

“Sebelum menjalani terapi hormon, penderita harus berkonsultasi lebih dulu dengan dokter spesialis yang kompeten di bidangnya, karena terapi ini dapat menimbulkan risiko lain,” kata Handi mengingatkan.

✓ Krim non hormonal untuk mengatasi kekeringan vagina. Sehingga, aktivitas seksual dengan pasangan tetap nikmat.

✓ Teknik reproduksi terbantu untuk mendapat keturunan dengan sel telur donor. “Ini bisa dilakukan bila perempuan yang mengalami menopause dini ingin punya anak,” ujar Handi.

 

Kesimpulan
Menopause Dini Belum Diketahui Pasti Penyebabnya,  kenalilah penyakit ini dengan Dokter ahlinya

 


Menopause Dini

Menopause Dini

Sumber : NYATA Tabloid
Artikel Lainnya : Mencegah Penyakit Hepatitis B

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *