Multiple Sclerosis dan Penyakit Autoimun Lainnya

Multiple Sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun yang sangat berat, baik bagi si penderita maupun bagi mereka yang merawatnya. Ini adalah sebuah pertarungan seumur hidup melawan berbagai kelumpuhan yang tidak dapat diprediksi dan serius. Pasien MS sering mengalami beberapa kali serangan akut dan secara bertahap kehilangan kemampuan untuk bcrialan atau melihat. Setelah 10 atau l5 tahun, mereka umumnya harus duduk di kursi roda, kemudian hanya dapat berada di ranjang selama tisa hidupnya.

Menurut National Multiple Sclerosis Society, sekitar 400.000 orang di Amerika mengidap penyakit ini.” Awalnya, penyakit ini didiagnosis antara usia 20-40 tahun dan menyerang perempuan tiga kali lebih sering daripada laki-laki.

Meskipun teluh banyak penelitian medis dan ilmiah di seluruh dunia untuk penyakit ini. kebanyakan institusi mengaku mereka tidak terlalu banyak mengetahui tentang penyebab atau pengobatannya. Semua situs internet tentang MS mengatakan bahwa penyakit ini merupakan sebuah enigma. Umumnya, faktor genetis, virus, dan lingkungan dianggap sebagai faktor yang memainkan peranan dalam perkembangan penyakit ini, tetapi hampir sama sekali tidak mengikutsertakan faktor pola makan sebagai salah satu kemungkinan. Ini sungguh mengherankan, mengingat tersedianya begitu banyak informasi dari laporan-laporan ilmiah tepercaya mengenai efek makanan. Sekali lagi, susu sapi tampaknya memainkan peran penting.

Gejala penyakit ini yang “bertumpuk-tumpuk” menunjukkan sistem saraf yang kacau. Sinyal elektrik yang membawa pesan dari dan ke sistem saraf pusat (otak dan saraf tulang belakang) serta menyebar ke sistem saraf periferal menuju ke seluruh tubuh tidak terkoordinasi dan terkontrol dengan baik. Ini terjadi akibat lapisan pembungkus serat saraf, disebut myelin, telah dihancurkan oleh reaksi kekebalan tubuh. Bayangkan yang terjadi pada sistem listrik di rumah Anda jika kabel-kabelnya terkelupas dan telanjang, hanya menyisakan bagian tembaganya. Sinyal elektrik akan mengalami arus pendek. Itulah yang teriadi dengan MS. Sinyal-sinyal listrik yang semrawut dapat merusak dan “membuat” bekas bakaran pada jaringan di sekitarnya, meninggalkan luka-luka kecil atau biasa disebut jaringan sclerosis. “Bakaran-bakaran” tersebut dapat menjadi serius dan akhirnya menghancurkan tubuh.

Penelitian awal yang menunjukkan sebuah efek pola makan terhadap MS telah dilakukan lebih dari setengah abad lalu oleh Dr. Rov Swank. Beliau memulai penelitiannya di Norwegia, tepatnya di Montreal Neurological Institute pada sekitar 1940 an. Kemudian. Dr. Swank ditunjuk mengepalai Divisi Neurologi di University of Oregon Medical School.”

Dr. Swank tertarik pada hubungan pola makan saat beliau menyadari bahwa MS tampaknya lebih umum terjadi di daerah beriklim dingin di daerah Utara.4 v Terdapat perbedaan besar pada kecenderungan MS saat seseorang bermigrasi dari daerah Ekuator. Kecenderungan MS ditemukan lebih tinggi 100 kali lipat jauh di Utara daripada di daerah Ekuator,1,1 dan 7 kali lebih tinggi di Australia bagian Selatan (lebih dekat ke Kutub Selatan) daripada di Australia bagian Utara.” Penyebaran tersebut sangat mirip dengan penyebaran penyakit autoimun lainnya, termasuk diabetes Tipe 1 dan arthritis rheumatoid (nyeri rematik).444

Meskipun beberapa peneliti menduga nu-dan magnetik mungkin merupakan penyebab penyakit ini. Dr. Swank berpendapat penyebabnya adalah pola makan, terutama makanan berbasis hewani yang kaya lemak jenuh.’ Beliau menemukan bahwa di area Norwegia yang konsumsi susunya tinggi memiliki tingkat MS yang lebih tinggi daripada daerah pesisir yang lebih banyak mengonsumsi ikan.

Dr. Swank mengadakan percobaannya yang paling terkenal, melibatkan 144 penderita MS dari Montreal Neurological Institute. Beliau mencatat kondisi pasien-pasien tersebut selama 34tahun.’ Beliau menyarankan pasiennya untuk mengonsumsi pola makan rendah kandungan lemak jenuh. Kebanyakan pasiennya menjalankan nasihatnya, tetapi tidak sedikit pula yang melanggar. Kemudian, beliau membagi pasiennya dalam dua kategori, yaitu peserta diet yang baik dan peserta diet yang buruk, tergantung dari konsumsi lemak jenuh mereka. Peserta diet yang baik adalah mereka yang mengonsumsi lemak jenuh kurang dari 20 g/hari, sedangkan peserta diet yang buruk mengonsumsi lebih dari 20 g/hari. (Sebagai perbandingan, satu hidangan cheeseburger lengkap mengandung sekitar 16 gram lemak jenuh. Sepotong kue mangkuk ayam yang dibekukan mengandung hampir 10 gram lemak |enuh.)

Seiring jalannya penelitian. Dr. Swank menemukan bahwa perkembangan prnyakit MS menurun dengan drastis pada peserta diet yang baik. meskipun pasien telah mengidap penyakit tersebut pada tahap yang sangat laniut. Beliau merangkum penelitiannya pada tahun 1990, menyimpulkan bahwa subkelompok pasien yang menialankan pola makan rendah lemak-jenuh pada tahap awal penyakitnya “sekitar 96% hanya menderita ketidakmampuan fisik ringan selama hampir 30 tahun” Hanya 5% dari kelompok pasien tersebut yang meninggal. Sementara itu. 80% pasien MS tahap awal yang termasuk kelompok peserta diet yang “buruk” (lebih luinyak lemak jenuh) meninggal karena MS. Hasil dari keseluruhan 144 pasien, termasuk mereka yang memulai program pola makan ini dengan penyakit MS tahap lanjut, dapat dilihat di  Grafik 9.4

 

Multiple Sclerosis dan Penyakit Autoimun Lainnya

Multiple Sclerosis dan Penyakit Autoimun Lainnya


 

KESIMPULAN
Multiple Sclerosis dan Penyakit Autoimun Lainnya ,
Multiple Sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun yang sangat berat, baik bagi si penderita maupun bagi mereka yang merawatnya.

SUMBER                                           : RAHASIA SEHAT ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Kontraindikasi dalam berpuasa

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *