Musik Dan Gaya Hidup

GURU PIANO VANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

INILAH PANGGILAN JIWA

Berlatih piano sejak kelas 2 SMP membuat Veny Lie akrab dengan berbagai nada indah. Melihat anak-anak berkebutuhan khusus yang tak banyak perhatian, Veny pun terpanggil untuk melatih mereka. Bukan pekerjaan yang mudah memang, namun Veny bahagia menyaksikan anak didiknya seperti Stephanie Handojo dapat menunjukkan talentanya dan diapresiasi banyak orang.

Udara sejuk pagi hari masih menyelimuti daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 23 Agustus. Memasuki sebuah rumah, seorang wanita paro baya yang terlihat cantik dalam balutan kemeja putih dengan sapuan rias tipis di wajahnya, menyambut ramah. Dialah Veny Lie, wanita sabar yang sudah 10 tahun mengabdikan hidupnya pada anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis, down syndrome bahkan epilepsi. Awalnya tak banyak yang menoleh padanya, namun seiring prestasi anak-anak didiknya seperti Stephanie Handojo, nama Veny kian melambung.

“Aku belajar bermain piano secara otodidak sejak duduk di bangku SMP kelas 2. Sebetulnya dulu tidak pernah ada keinginan untuk mengajarkan anak-anak berkebutuhan khusus, namun sejak tahun 2003 entah karena peristiwa apa, aku mulai berkeinginan mengajarkan mereka,” ungkap Veny mengawali kisahnya.

Veny kemudian menyebut keinginannya sebagai panggilan jiwa. Sejak awal ia sadar bahwa mpngajar anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah perkara yang mudah. Apalagi dirinya bukan berasal dari pengajar piano yang dikhususkan untuk menangani mereka. Dalam praktiknya, perlu kesabaran ekstra dan proses yang panjang hingga Veny bisa mendapatkan hasil yang diimpikan.

Kini Veny babagia, karena perlahan tapi pasti, benih yang ia tanamkan pada anak-anak itu mulai tumbuh dan bisa dinikmati banyak orang. Tidak hanya Veny, keluarga anak-anak berkebutuhan khusus dan para penonton lain pun turut hanyut dalam kebahagiaan ketika melihat anak-anak polos ini mahir memainkan piano.

“Tak hanya mereka yang down syndrome, namun juga yang autis dan epilepsi. Mereka semua butuh penanganan khusus yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamakan cara mengajar anak autis dengan anak yang down syndrome misalnya,” tutur Veny, tersenyum.

SEMUA OTODIDAK

Apa yang Veny lakukan semata-mata hanya ingin mengubah pandangan negatif orang pada anak-anak berkebutuhan khusus. Bahkan banyak orang tua yang tidak mau menerima kehadiran anak-anak tersebut karena malu atau gengsi.

Sejak memutuskan untuk mengajarkan anak-anak itu, Veny merasa memiliki anggota keluarga baru yang harus dijaga serta dididik dengan baik. Tentang metode mengajar, Veny mengaku tak pernah berguru pada siapa pun. Semuanya ia lakukan secara otodidak.

“Semuanya aku pelajari sendiri. Aku kumpulkan banyak informasi dari berbagai buku yang membahas tentang bagaimana menghadapi anak autis, down syndrome, atau berkebutuhan khusus lain,” kisahnya.

Anak-anak istimewa, demikian Veny menyebut, umumnya memiliki tingkah laku yang berbeda-beda. Mereka yang autis biasanya tidak bisa diam, layaknya anak hiperaktif. Sedangkan anak down syndrome cenderung pendiam, namun jika ada suara-suara yang mengganggu seperti suara kran air, kipas angin, bahkan bunyi detik jam dinding pun langsung bereaksi.

“Hari pertama aku mengajar anak autis benar-benar tidak ada bahan sama sekali. Aku masih bingung harus memulai dari mana. Bisa mengajak mereka duduk diam selama 10 menit saja aku sudah beruntung, meskipun tidak memainkan piano,” ulasnya.

Veny memulai pengajarannya dengan menuntun tangan dan jari mungil mereka yang kebanyakan lemas untuk menyentuh tuts piano. Berkat kesabaran dan usahanya yang tak gentar, dalam 3 bulan mereka sudah memiliki sensor motorik yang bagus, bisa menekan tuts piano dengan baik, bahkan ada yang berhasil memainkan satu lagu.

MESKI HARUS JATUH BANGUN

Dalam perjalanannya, Veny mengaku harus jatuh bangun menghadapi kehidupan, termasuk beragam komentar pedas dan miring tentang pilihannya. “Orang tuaku sendiri dulunya sempat tidak disetuju, bahkan aku diam-diam saja mengajar piano seperti ini. Suamiku juga demikian, ia sempat mengatakan bahwa aku hanya buang-buang tenaga aja” kenangnya, miris.

Tak hanya komentar pedas, sang suami bahkan kemudian memutuskan untuk meninggalkannya. Sebenarnya sejak awal pernikahan, Veny sudah menjadi pengajar piano, namun saat itu dia memang belum menyentuh anak-anak spesial seperti sekarang ini. “Bagiku mereka semua spesial, punya karakter yang berbeda-beda. Sayangnya, suamiku tak mendukung,” sesalnya.

Kehidupan Veny makin sulit sejak itu. la harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak dan membiayai semuanya sendirian. Tak. mudah, namun Veny berusaha untuk tegar dan menghadapi segala risiko.

Suatu ketika ia pun memutuskan untuk membuka tempat les di rumah. Tak mudah, karena banyak orang tua murid Jekatan yang tidak percaya dengan kemampuannya mengajarkan anak-anak mereka bermain piano. Namun Veny tetap optimis hingga akhirnya berhasil menemukan titik di mana ia bisa bekerja dan merasa nyaman bersama dengan murid-muridnya.

“Puji Tuhan, seiring berjalannya waktu mereka yang pesimis berubah jadi optimis karena banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka,” syukurnya.

Kebanyakan dari murid Veny adalah mereka yang pernah merasakan ditolak dari tempat les piano lain dengan alasan tidak mampu mengajarkan anak down syndrome. Karenanya Veny maklum dengan sifat pesimis para orang tua. Apalagi kebanyakan dari orang tua juga masih merasa malu memiliki anak seperti mereka, bahkan ada beberapa yang sama sekali tidak memperhatikan tumbuh kembang anaknya.

“Aku prihatin dan sedih ya, mengapa mereka malu memiliki anak seperti ini. Toh anak-anak ini juga tidak ingin dilahirkan dengan kondisi tersebut bukan. Harusnya mereka bisa membimbing dan mendidiknya agar mampu berprestasi,” katanya. Pelan-pelan ia bisa membuat para orang tua bangga memiliki anak kebutuhan khusus.

Veny bercerita bahwa ada beberapa orang tua yang hanya mengantar anaknya les piano kemudian ditinggal begitu saja seperti di penitipan anak. Mereka seolah sudah tidak peduli lagi bagaimana perkembangan anaknya. “Maka aku biasa berperan sebagai pengajar sekaligus Ibu ketika mereka les. Sedih rasanya, masa mau cuek begitu saja sementara aku sendiri juga memiliki anak walaupun tidak seperti mereka? Setidaknya perasaan iba itu pasti ada,” lanjutnya.

DICEKIK ATAU DIGIGIT ITU SUDAH BIASA

Bukan pemandangan yang aneh lagi jika Veny mengalami gigitan dan memar di bagian tubuhnya. Hal inilah yang seringkali membuat orang tua Veny, Fan Ai Ling dan Suriono sempat melarangnya mengajar anak-anak kebutuhan khusus. Mereka khawatir dengan keselamatannya.

“Dicekik atau digigit sudah jadi sarapanku sehari-hari. Tidak hanya itu mereka juga seringkali merusak barang-barang yang ada di sekitarnya, entah vas bunga atau kipas angin. Semuanya mereka bisa rusak,” ucapnya, tersenyum maklum.

Belum lagi, murid-murid tersebut juga merusak beberapa senar piano. Ini tentu kejadian langka, karena senar piano letaknya tak seperti senar gitar. Kejadian itu pun tak hanya sekali, hingga akhirnya Veny kewalahan. la berpikir keras bagaimana caranya agar murid-muridnya tidak bersikap demikian kasarnya.

“Mereka mana ngerti sopan-santun, cara duduk yang baik tidak boleh merusak ini, merusak itu. Semua benda yang ada di sekelilingnya harus dipegang kalau periu dirusak. Aku sendiri jujur sempat kaget melihatnya,

tapi ya bagaimana lagi. Masak aku harus cuek, sementara mereka sudah bersusah payah datang ke rumah,” tuturnya.

Tak terhitung lagi berapa kali ia syok menyaksikan tingkah anak didik yang bisa membuat jiwanya terancam. “Tiap minggu aku berdoa semoga mereka tidak mengamuk lagi, tidak mencekik lagi, sambil harap-harap cemas juga jika mereka lagi-lagi harus berulah”, tambahnya.

 

KESIMPULAN
GURU PIANO BERKEBUTUHAN KHUSUS menjadi Musik Dan Gaya Hidup Para Wanita tanpa batas Usia.

 

 

Musik Dan Gaya Hidup

Musik Dan Gaya Hidup

Sumber : WANITA INDONESIA Tabloid
Artikel Lainnya : Menopause Dini

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *