Osteoporosis

Apakah guru SD Anda pernah mengatakan bahwa jika Anda tidak memiliki tulang. Anda hanyalah sebuah onggokan daging tak berbentuk di atas lantai? Atau mungkin Anda mengetahui tentang rangka manusia melalui lagu yang populer,”… the ankle bone is connected to the shin bane, the shin bone is connected to tlic knee bone” (tulang tumit menyambung dengan tulang kering, tulang kering menyambung dengan tulang lutut) dan seterusnya. Pada saat bersamaan, Anda mungkin diberi tahu untuk minum susu agar tulang dan gigi Anda kuat. Karena tidak seorang pun di antara kita yang menginginkan menjadi onggokan daging tak berbentuk. dan karena selebriti kita telah dibayar untuk mengiklankan manfaat yang diyakini dimiliki oleh susu, kita mengonsumsinya. Susu sangat berkait an dengan tulang, seperti lebah dengan madu.

Amerika mengonsumsi susu sapi dan produk olahannya lebih banyak dari semua populasi di dunia. ladi. orang Amerika seharusnya memiliki tulang sangat kuat. bukan? Sayangnya tidak. Sebuah penelitian terbaru menuniukkan bahwa perempuan Amerika usia 50 tahun ke atas memiliki tingkat kerusakan panggul tertinggi di dunia.Negara negara yang memiliki tingkat kerusakan tulang panggul lebih tinggi hanya berada di dataran Eropa dan Pasilik Selatan (Australia dan New Zealand) dan mereka mengonsumsi lebih banyak susu daripada Amerika. Apa yang terjadi?

Banyaknya kerusakan tulang panggul sering digunakan sebagai indikator untuk osteoporosis, sebuah penyakit (ulang yang terutama menyerang perempuan setelah menopause. Penyakit ini sering dikaitkan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan kalsium. Oleh sebab itu. mereka yang bertanggung jawab membuat kebiiakan kesehatan sering merekomendasikan konsumsi kalsium yang lebih banyak. Produk-produk olahan susu sangat kaya akan kalsium sehingga industri susu sangat bersemangat mendukung kampanye konsumsi kalsium. Kampanye ini ada kaitannya dengan alasan mengapa Anda disarankan meminum susu untuk kesehatan tulang— politik yang akan kita bahas pada Bagian IV.

Meski demikian, ada sesuatu yang luput dari perhatian kita karena negara-negara yang paling banyak menggunakan susu sapi dan produk olahannya juga ternyata memiliki tingkat kerusakan panggul yang tertinggi dan kesehatan tulang yang terparah. Sebuah penjelasan yang mungkin diungkapkan oleh sebuah laporan pada tahun 1992, ditulis oleh peneliti di Yale University School of Medicine, menunjukkan sebuah asosiasi yang kuat antara asupan protein hewani dan tingkat kerusakan tulang pada perempuan di berbagai negara.-‘ Data yang dikumpulkan berasal dari 34 survei terpisah di 16 negara dan dianalisis serta telah ditelaah dalam 29 jurnal ilmiah. Seluruh subjek dalam penelitian tersebut adalah perempuan usia 50 tahun ke atas. Laporan tersebut menemukan bahwa 70% dari seluruh tingkat kerusakan tulang disebabkan oleh konsumsi protein hewani.

Para peneliti menjelaskan bahwa protein hewani, tidak seperti protein nabati, meningkatkan tingkat keasaman dalam tubuh.’ Tingkat keasaman yang tinggi berarti darah dan jaringan tubuh kita meniadi lebih asam. Tubuh tidak menyukai lingkungan asam dan mulai melawan. Agar dapat menetralkan asam, tubuh menggunakan kalsium yang berfungsi sebagai zat basa yang sangat efektif. Namun, kalsium tersebut pastinya berasal dari suatu tempat. Tubuh akhirnya menarik kalsium dari tulang, dan hilangnya kalsium akan membuat tulang melemah sehingga berisiko tinggi mengalami kerusakan.

Penjelasan bahwa protein hewani menyebabkan kelebihan asam sisa metabolisme pertama kali diutarakan sekitar tahun IKKO-an’ dan didokumentasikan pada 1920 an.’ Kami juga telah mengetahui bahwa protein hewani jauh lebih efektif daripada protein nabati dalam meningkatkan tingkat keasaman dalam tubuh.” ”

Saat protein hewani meningkatkan asam metabolisme dan menarik kalsium dari tulang, jumlah kalsium dalam urine meningkat. Efek ini telah diketahui selama lebih dari W) tahun dan lelah diteliti secara mendetail sejak 1970-an. Ringkasan dari penelitian penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 1974, 1981, dan 1990.” Setiap ringkasan tersebut menunjukkan bahwa jumlah protein hewani yang biasa dikonsumsi per harinya dapat menyebabkan peningkatan jumlah kalsium dalam urine. Grafik 10.1 diambil dari publikasi tahun 1981. Peningkatan asupan protein (umumnya yang berbasis hewani) 35-78 g/hari menyebabkan 50% peningkatan kalsium dalam urine. Efek ini teriadi dalam cakupan asupan protein yang biasa kita konsumsi. Rata-rata warga Amerika mengonsumsi protein sekitar 70-100 g/hari. Secara kebetulan, seperti yang telah disinggung pada Bab 4. penelitian selama f» bulan yang didanai oleh Atkins Center menemukan bahwa mereka yang mengadopsi Diet Atkins mengeluarkan kalsium 50% lebih banyak dalam urine mereka setelah menjalani program selama 6 bulan.

Osteoporosis

Osteoporosis

 

Proses penyakit sangat jarang bersifat sesederhana “satu mekanisnme yang melakukan semuanya”, tetapi seluruh penelitian pada bidang tersebuut dapat menyediakan argumen yang baik. Sebuah penelitian terbaru, yang diterbitkkan tahun 2000. dilakukan oleh Department of Medicine. University of Califonia. San Fransisco. laporan tersebut menggunakan data dari 87 survei di 33 negara serta membaundingkan rasio konsumsi protein nabati dan hewani dengan tingkat kerusakan tulanmg (Grafik 10.2). Rasio tinggi konsumsi protein nabati dibandingkan protein hewavani secara menakjubkan menunjukkan hampir tidak adanya kerusakan tulang.

 

Osteoporosis

Osteoporosis

 

KESIMPULAN
Osteoporosis, Protein hewani dan kalsium, jika dikonsumsi pada tingkat yang berlebihan, memiliki kemampuan menigkatkan resiko osteoporosis.

SUMBER                                           : RAHASIA SEHAT ORANG CHINA 

LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : LEMAK TRANS

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *