Penelitian Kanker Usus Besar

Penyembuh yang Spesifik

Sebagian besar perdebatan yang terjadi 25 tahun terakhir tentang serat makanan dan kaitannya dengan kanker usus besar dimulai dari hasil penelitian Burkitt di Afrika. Karena Burkitt memiliki kredibilitas tinggi, banyak orang percaya bahwa serat adalah sumber kesehatan colorectal. Meski demikian, belum ada seseorang yang berhasil membuktikan bahwa serat adalah senjata pamungkas untuk mencegah kanker colorectal. Ada beberapa alasan teknis mengapa kesimpulan definitif mengenai serat sulit tercapai.” Masing-masing alasan tersebut berkaitan dengan kenyataan bahwa serat makanan bukanlah satu substansi tunggal yang memproduksi satu manfaat tunggal. Serat merepresentasikan ratusan substansi dan manfaat yang dimilikinya bekerja melalui serangkaian peristiwa biokimia dan psikologis yang sangat kompleks. Setiap kali seorang peneliti ingin menyelidiki konsumsi serat dalam makanan, ia harus memutuskan substansi mana dari ratusan substansi yang akan diukur dan metode apa yang akan digunakan. Hampir tidak mungkin membangun prosedur standar karena memang tidak mungkin mengetahui apa yang dilakukan setiap sub-fraksi serat pada tubuh.

Ketidakpastian standar prosedur membuat kami mengukur serai melalui lebih dari selusin metode dalam China Study. Seperti yang telah diringkas dalam Bab 4, saat konsumsi dari hampir semua jenis serat tersebut meningkat, tingkat kanker colon dan rektum menurun. Namun, kami tidak dapat membuat interpretasi yang jelas ” untuk mendefinisikan jenis serat mana yang paling penting.

Saya terus memercayai bahwa hipotesis awal Burkitt yang mengatakan bahwa pola makan mengandung serat dapat mencegah kanker colorectal adalah benar dan bahwa beberapa efek tersebut terjadi karena akumulasi efek dari semua jenis serat. Pada tahun 1990, sekelompok peneliti menelaah 60 penelitian berbeda yang pernah dilakukan mengenai serat dan kanker colon. Mereka menemukan bahwa kebanyakan penelitian mendukung pemikiran bahwa serat melindungi kita dari kanker colon. Mereka mencatat bahu a hasil yang dikombinasikan menuniukkan bahwa orang yang mengonsumsi banyak serat memiliki 43% risiko lebih kecil terserang kanker colon dibandingkan orang yang mengonsumsi sedikit serat. ‘ Mereka yang mengonsumsi banyak sayuran memiliki 52% risiko lebih kecil daripada yang sedikit mengonsumsi sayuran. Namun, walaupun mereka telah menelaah bukti sebanyak itu, para peneliti mencatat. “Data yang tersedia tidak memungkinkan diskriminasi antara efek yang tcriadi karena serat dan efek nonserat yang terjadi karena sayuran” 1 ladi. apakah serat adalah satu-satunya senjata pamungkas yang telah kita cari cari? Hingga 1990, kita masih tidak mengetahui lawabannva.

Dua tahun kemudian, tahun 1992, kelompok peneliti lain menelaah 13 penelitian yang membandingkan orang sehat dengan penderita kanker colorectal (desain kasus-kontrol). Mereka menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi banyak serat memiliki 17% risiko lebih kec il terkena kanker colorectal dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi sedikit.’ Kenyataannya, mereka menemukan bahwa jika warga Amerika mengonsumsi tambahan serat sebanyak 13 gram per hari dari sumber-sumber tumbuhan (bukan dari suplemen), sekitar sepertiga dari keseluruhan kasus kanker colorectal di Amerika dapat dihindari. Iika Anda ingat, 13 gram serat di dunia nyata setara dengan satu cangkir varietas kacang-kacangan apa pun.

Vang paling baru. sebuah penelitian luar biasa besar yang disebut penelitian EPIC mengumpulkan data mengenai asupan serat dan kanker colorectal pada 519.000 orang di seluruh Eropa. 1 Mereka menemukan bahwa 20% subjek yang banyak mengonsumsi serat, yaitu sekitar 34 gram per hari, memiliki 42% risiko lebih kecil menderita kanker colorectal daripada 20% subjek yang sedikit mengonsumsi serat, yaitu sekitar 13 gram per hari. ‘ Yang sangat penting untuk dicatat adalah, seperti dalam semua penelitian tersebut, serat diperoleh dari makanan, bukan suplemen, ladi, kita dapat menyebutnya “pola makan yang mengandung serat” tampaknya dapat menurunkan risiko kanker colorectal secara signifikan. Namun, kita tetap tidak dapat mengambil kesimpulan definitif apa pun tentang serat itu sendiri. Hal ini artinya, usaha untuk menambahkan serat tertentu dalam makanan mungkin sama sekali tidak bermanfaat. Namun, mengonsumsi makanan nabati yang secara alami kaya serat jelas bermanfaat. Makanan tersebut termasuk sayuran (bagian bukan akar), buah, dan gandum utuh.

Kita tidak dapat mengetahui seberapa banyak pencegahan yang disediakan serat terhadap kanker colorectal. Apakah buah, sayuran, dan gandum utuh melindungi, atau apakah daging berbahaya? Atau apakah keduanya? Sebuah penelitian baru-baru ini di Afrika Selatan membantu kita menjawab pertanyaan tersebut. Penduduk kulit putih di Afrika Selatan memiliki kanker usus besar 17 kali lipat lebih banyak daripada penduduk kulit hitam. Hal ini awalnya diduga terjadi karena konsumsi serat yang lebih tinggi oleh penduduk kulit hitam. ‘ Mereka memeroleh serat tersebut dari tepung jagung yang tidak dimurnikan. (Tepung nabati—tepung beras, tepung iagung, tepung terigu, dan juga gula—dapat diperoleh melalui proses manual maupun industri. Tepung dari skala industri umumnya sangat terproses, artinya mengalami banyak sekali pencucian dan pemisahan bahan dengan zat kimia untuk memperoleh hasil yang bersih dan awet sehingga disebut murni atau sangat terproses/refined.) Meski demikian, beberapa tahun terakhir komunitas kulit hitam di Afrika Selatan semakin banyak mengonsumsi makanandaritepungmaizena komersial—maizena termurnikan yang sangat berkurang seratnya. Bahkan, mereka sekarang mengonsumsi lebih sedikit serat dibandingkan komunitas kulit putih di Afrika Selatan. Namun, tetap saja tingkat kanker colon pada komunitas kulit hitam berada di (itik yang rendah yang akhirnya mengundang pertanyaan tentang berapa banyak efek perlindungan yang diberikan oleh serat makanan itu sendiri. Penelitian yang lebih baru76 menunjukkan bahwa tingkat kanker colon yang lebih tinggi pada komunitas kulit putih Af rika Selatan dapat disebabkan oleh meningkatnya konsumsi protein hewani (77 lawan 22 g/hari), total lemak (115 lawan 71 g/hari), dan kolesterol (408 lawan 221 mg/hari), seperti yang terlihat dalam Grafik 8.5. Para peneliti mengatakan bahwa tingkat kanker colon yang jauh lebih tinggi di kalangan kulit putih Afrika Selatan mungkin lebih disebabkan oleh kuantitas protein dan lemak hewani dalam pola makan mereka ketimbang kurangnya faktor perlindungan dari serat makanan.

 

 

 

 

KESIMPULAN
Penelitian Kanker Usus Besar diAmerika ternyata disebabkan oleh kuantitas protein dan lemak hewani.

 

SUMBER                                  : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Jantung Irama Cinta

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *