Pentingnya Serat

Pentingnya Serat

Mendiang Profesor Denis Burkitt dari Trinity College. Dublin, sangatlah vokal. Akal what, kredibilitas ilmiah, dan rasa humornya sangat membekas di benak saya ketika pertama kali bertemu beliau pada sebuah seminar di Universitas Cornell. Subjek dari penelitian beliau adalah serat makanan. Beliau telah menempuh perjalanan sejauh HUMM) mil mengendarai mobil leep, melalui jalan pedesaan yang rusak, untuk mempelaiari kebiasaan makan orang-orang Afrika.

Beliau mengatakan bahwa walaupun tidak dicerna oleh tubuh, serat sangat vital bagi kesehatan. Serat mampu menyerap air dari dalam tubuh ke dalam usus untuk melancarkan pencernaan. Serat yang tidak tercerna ini, mirip seperti kertas perangkap serangga, juga mengumpulkan bahan-bahan kimia Jahat yang mereka temukan di sepanjang jalan di dalam usus, dan unsur kimia tersebut bisa saia bersifat karsinogen, lika tidak cukup mengonsumsi serat, kita rawan terserang penyakit-penyakit konstipasi. Menurut Burkitt. penyakit-penyakit tersebut termasuk kanker usus, diverticulosis, hemorrhoid, dan varises vena.

Pada tahun 1993, Dr. Burkitt dianugerahi penghargaan Bower Award, penghargaan terbesar kedua setelah hadiah nobel. Beliau mengundang saya meniadi pembicara pada seremoninya di ( ranklin Institute. Philadelphia, hanya dua bulan sebelum beliau wafat. Beliau berpendapat bahwa China Study adalah sebuah penelitian tentang pola makan dan kesehatan yang paling penting di dunia pada saat itu.

Serat dalam makanan secara eksklusif banyak terdapat di makanan berbasis nabati. Material ini. yang membuat dinding sel memiliki kekuatan, berasal dari ribuan variasi unsur kimia berbeda. Umumnya, serat tersusun dari molekul karbohidrat yang sangat kompleks. Tubuh kita hanya sedikit mencerna serat atau bahkan, tidak sama sekali. Meski demikian, serat, walau hanya memiliki sedikit kalori atau tidak sama sekali, membantu mengencerkan densitas kalori di menu makanan, membuat sensasi kenyang, dan membantu menghentikan selera makan. Dalam melakukan fungsi tersebut, serat memuaskan rasa lapar dan meminimalkan konsumsi kalori berlebih.

Rata-rata asupan serat (Grafik 4.10) sekitar 3 kali lebih tinggi di China daripada di Amerika.40 Perbedaan ini sungguh luar biasa, mengingat bahwa ada banyak distrik yang memiliki rata-rata yang jauh lebih tinggi lagi.

Pentingnya Serat

Pentingnya Serat

Namun, menurut beberapa “ahli” di Amerika, ada sisi gelap yang dimiliki serat. Mereka percaya jika mengonsumsi serat terlalu banyak, tubuh tidak dapat menyerap cukup zat besi dan mineral-mineral lainnya, yang sangat penting bagi kesehatan. Serat mungkin akan mengikat nutrisi-nutrisi tersebut dan membawanya pergi keluar dari sistem sebelum tubuh dapat mencerna. Mereka mengatakan bahwa batas maksimal asupan serat sebaiknya berkisar 30-35 gram per hari, yang merupakan angka asupan rata-rata di daerah rural China.

Kami mempelajari masalah zat besi/serat ini dengan saksama di China Study. Ternyata, serat bukanlah musuh bagi penyerapan zat besi. Kami mengukur berapa banyak zat besi yang dikonsumsi oleh warga China dan berapa banyak yang terdapat dalam tubuh mereka. Zat besi diukur dengan enam cara yang berbeda (empat biomarker darah dan dua estimasi asupan zat besi). Saat kami membandingkan hasil pengukuran ini dengan asupan serat, tidak ada bukti yang menunjukkan peningkatan asupan serat menghalangi penyerapan zat besi oleh tubuh. Kenyataannya, kami menemukan efek yang bertentangan. Sebuah indikator yang baik akan keberadaan zat besi, yaitu hemoglobin, secara nyata meningkat seiring bertambahnya asupan serat.1 Ternyata, makanan berserat tinggi, seperti padi-padian dan jagung (bukan nasi berbumbu seperti yang dikonsumsi di China), juga kaya zat besi. Artinya, semakin tinggi konsumsi serat, semakin tinggi pula konsumsi zat besi.1” Asupan zat besi di daerah rural China (34 mg/hari) secara mengejutkan fcftnasuk tinggi jika dibandingkan rata-rata asupan penduduk Amerika (18 mg/hari). Hal ini lebih jauh diasosiasikan dengan makanan berbasis nabati daripada makanan berba-sis hewani.*1

Hasil temuan penelitian tentang serat dan zat besi ini. seperti banvak observasi lainnya dalam penelitian ini. tidak mendukung pandangan umum kebanyakan ilmuwan Barat. Orang yang mengonsumsi lebih banyak makanan berbasis nabati, artinya lebih banyak serat dalam makanan, juga mengonsumsi lebih banyak zat besi.” Semua itu terlihat dari kesimpulan yang memiliki signihkami statistik akan tingginya tingkat hemoglobin. Sangat disayangkan, sedikit kebingungan mum ulVarrna adanva kenyataan bahwa penduduk di beberapa daerah rural China, termasuk perempuan dan anak-anak, memiliki tingkat zat besi yang rendah. Ini terutama terjadi di tempat yang sering dijumpai penyakit yang disebabkan parasit. Di daerah rural China yang sering dijumpai penyakit parasit, status zat besi lebih rendah.1 Ini memberikan celah bagi beberapa orang untuk dapat mengklaim bahwa orang-orang tersebut membutuhkan lebih banyak daging. Namun, bukti mengindikasikan bahwa masalah tersebut lebih tepat diperbaiki dengan menekan perkembangan parasit di daerah-daerah tersebut.

Umumnya, ketertarikan awal terhadap serat dalam makanan muncul bersamaan dengan perialanan Burkitt ke Afrika dan pernyataannya bahwa kanker usus lebih sedikit menyerang populasi yang mengonsumsi diet tinggi-serat. Burkitt berhasil memopulerkan pendapatnya, tetapi sesungguhnya kisah itu sudah berusia paling tidak 200 tahun. Di Inggris, pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, hal tersebut sudah dinyatakan oleh beberapa praktisi kesehatan ternama, bahwa konstipasi, yang diasosiasikan dengan pola makan rendah-serat.jugadiasosiasikandenganrisikokankcr yang lebih tinggi (biasanya kanker payudara dan kanker “saluran pencernaan”).

Pada awal China Study, kepercayaan bahwa serat mungkin dapat mencegah kanker usus besar adalah sebuah pendapat umum. meskipun pada tahun 1982 National Academy of Sciences Committee on Diet. Nutritition and Cancer memublikasikan laporannya, yaitu “tidak ditemukan bukti memadai untuk mengindikasikan bahwa serat dalam makanan menghasilkan efek perlindungan terhadap kanker usus pada manusia” Laporan tersebut kemudian menyimpulkan “… jika memang terdapat efek semacam itu. komponen-komponen spesifik dari serat lebih mungkin sebagai yang berperan dan bukannya serat dalam makanan secara keseluruhan.”

China Study menyediakan bukti adanya sebuah hubungan antara serat dengan beberapa kanker tertentu. Hasil kami menunjukkan bahwa asupan tinggi-serat secara konsisten berasosiasi dengan tingkat kanker rektum dan usus yang lebih rendah. Asupan tinggi-serat juga berasosiasi dengan kadar kolesterol darah yang lebih rendah.”1 Tentu saja. konsumsi tinggi-serat merefleksikan konsumsi makanan berbasis nabati. Makanan seperti kacang-kacangan, sayuran berdaun, dan gandum utuh, semuanya kaya akan serat.

KESIMPULAN
Pentingnya Serat,
Serat mirip seperti kertas perangkap serangga yang mengumpulkan bahan-bahan kimia jahat yang ditemukan sepanjang jalan di dalam usus.

 

SUMBER                                  : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Kulit Manusia

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *