Perawat Karnivora


Untuk dapat memahami kritik saya yang cenderung keras, kita perlu melihat beberapa perspektif dan pola makan Amerika itu sendiri, terutama jika dibandingkan penelitian internasional yang memberikan rangsangan untuk hipotesis lemak dalam makanan. Warga Amerika mengonsumsi daging dan lemak dalam jumlah banyak dibandingkan penduduk di negara negara berkembang. Mereka mengonsumsi total protein lebih banyak, dan 70*. dari protein tersebut berasal dari sumber-sumber hewani. Mereka mengonsumsi buah dan sayuran lebih sedikit. Lebih buruknya, mereka juga mengonsumsi banyak produk yang sangat terproses dan sering mengandung lemak, gula, dan garam tambahan. Sebagai contoh, program makan siang untuk sekolah nasional dari United State Department of Agriculture (USDA) menghitung kentang goreng sebagai sayuran!

Sebagai perbandingan, orang orang di daerah rural China mengonsumsi makanan hewani yang sangat sedikit. Makanan hewani hanya menyuplai sekitar 10% dari total asupan protein. Perbedaan yang mencolok antara dua pola makanan ini ditunjukkan pada Grafik 14.1.’

Perbedaan tersebut adalah khas perbedaan dan pola makan antara kebudayaan Barat dan tradisional. Secara umum, orang-orang di negara-negara Barat kebanyakan pemakan daging dan orang-orang di negara-negara yang lebih tradisional kebanyakan pemakan tumbuh tumbuhan

ladi. ada apa dengan perempuan dalam Nurses’ Health Study? Seperti yang dapat Anda duga. secara nyata semua perempuan tersebut mengonsumsi pola makan sangat kaya makanan berbasis hewani, bahkan lebih daripada penduduk Amerika rata-rata. Asupan protein rata-rata mereka (dalam % kalori) adalah sekitar 19%. dibandingkan rata-rata penduduk Amerika yang 15-16%. Sebagai gambaran, asupan harian yang direkomendasikan (recommended daily allowance/RDA) untuk protein hanya sekitar 9-10%.

Namun, yang lebih penting lagi, dari protein yang dikonsumsi para perawat dalam penelitian tersebut, antara 78% dun 86% berasal dari makanan berbasis hewani,1seperti yang terlihat pada Grafik 14.2.* ” Bahkan, dalam kelompok perawat yang paling sedikit total proteinnya, sekitar 79% protein tersebut berasal dari makanan berbasis hewani.9 Dengan kata lain, secara nyata semua perempuan tersebut lebih karnivora daripada rata-rata perempuan Amerika. Mereka mengonsumsi sangat sedikit makanan berbasis tumbuhan utuh.

Hal ini merupakan poin yang sangat penting. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jernih, saya harus kembali ke perbandingan internasional pada tahun 1975 yang dibuai oleh Ken Carroll, ditunjukkan pada Grafik 4.7 sampai 4.9. Grafik 4.7 ditampilkan kembali pada bab ini dalam Grafik 14.3.

Gralik tersebut menjadi salah satu observasi mengenai pola makan dan penyakit kronis yang paling berpengaruh pada 50 tahun terakhir Seperti penelitian lainnya, penelitian Ken Carroll adalah bagian signifikan yang menielaskan mengapa laporan Pola Makau, Nutrisi, dan Kanker tahun 1982 merekomendasikan penduduk Amerika memangkas asupan lemaknya menjadi 30% dari total asupan kalori untuk mencegah kanker. Laporan tersebut dan laporan-laporan serupa lainnya pada akhirnya memicu meledaknya produk-produk rendah-lemak di pasaran (produk susu “rendah-lemak” potongan daging tanpa lemak, permen dan kudapan “rendah-lemak”).

Sayangnya, penekanan hanya pada lemak semata merupakan kesalahan. Penelitian Carroll, seperti halnya perbandingan internasional lainnya, membandingkan populasi yang umumnya mengonsumsi daging dan susu dengan populasi yang umumnya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan. Ada banyak lagi perbedaan antara pola makan negara negara tersebut daripada hanya sekadar asupan lemak! Yang sesungguhnya ditunjukkan grafik Carroll adalah semakin condong sebuah populasi mengonsumsi pola makan berbasis nabati, semakin rendah risiko kanker payudara.

Namun, karena para perempuan dalam Nurses’ Health Study sangat jauh dari pola makan berbasis nabati, tidak mungkin meneliti hubungan antara pola makan dengan kanker payudara seperti halnya yang dilakukan oleh penelitian-penelitian internasional. Sesungguhnya, tidak ada satu perawat pun yang mengonsumsi pola makan ala negeri yang berada di bagian bawah grafik tersebut. Jangan salah menilai: secara nyata seluruh kelompok perawat tersebut mengonsumsi pola makan yang berisiko tinggi. Kebanyakan orang yang membaca penelitian tersebut melewatkan kesalahan ini karena, seperti yang para peneliti I larvard tekankan, terdapat perbedaan yang besar dalam asupan lemak di antara para perawat.

Kelompok perawat yang mengonsumsi paling sedikit lemak mengonsumsi 20 25% dan kalori mereka sebagai lemak dan kelompok perawat yang mengonsumsi paling banyak lemak mengonsumsi 50-55% dari kalori mereka sebagai lemak.10 Pada penglihatan sekilas, jarak tersebut tampak mengindikasikan perbedaan yang substansial dalam pola makan mereka, tetapi hal itu tidak benar karena hampir semua perempuan secara seragam mengonsumsi pola makan sangat kaya akan makanan berbasis hewani. Ini menimbulkan satu pertanyaan, bagaimana mungkin asupan lemak mereka bervariasi sedemikian dramatis sementara mereka semua secara seragam mengonsumsi makanan berbasis hewani yang sangat banyak?

Semenjak istilah “rendah-lemak” menjadi sinonim “sehat”, teknologi telah membuat banyak makanan yang sama dengan yang Anda kenal dan gemari, tetapi tanpa lemak. Sekarang Anda bisa dengan mudah mendapatkan semua jenis produk rendah-lemak atau tanpa-lemak. Dengan kata lain, Anda dapat mengonsumsi makanan yang sama seperti yang Anda lakukan 25 tahun lalu, tetapi mengurangi asupan lemak Anda secara dramatis. Namun, Anda masih tetap mempertahankan proporsi asupan makanan berbasis-hewani dan -nabati yang sama.

Dalam istilah praktis, ini berarti konsumsi daging sapi, babi, dan domba menurun, sementara daging ayam. kalkun, dan ikan yang lebih rendah lemak meningkat. Kenyataannya, dengan mengonsumsi lebih banyak unggas dan ikan, orang-orang telah meningkatkan total asupan daging mereka menjadi rekor tertinggi,” sementara berusaha (dan gagal1‘) mengurangi asupan lemak mereka. Sebagai tambahan, susu murni menjadi lebih sedikit dikonsumsi, tetapi susu rendah lemak dan susu skim lebih banyak dikonsumsi. Konsumsi keju meningkat menjadi 150% dalam 30 tahun terakhir.’1

Secara keseluruhan, kita masih se-karnivora seperti pada 30 tahun lalu, tetapi dapat lebih selektif menurunkan asupan lemak, semua berkat teknologi pangan.

Sebagai ilustrasi, kita hanya perlu melihat dua hidangan khas Amerika.” 14 Hidangan nomor 1 disankan di rumah yang sadar akan kesehatan. Orang yang bertanggung jawab membeli bahan pangan membaca label nutrisi dari setiap makanan yang dibelinya. Hasilnya: hidangan yang rendah lemak.

Hidangan nomor 2 disajikan di rumah dengan standar favorit Amerika. Siat mereka memasak sendiri, mereka membuat masakan tersebut “kaya” Hasilnya: hidangan yang kaya lemak.

Kedua hidangan tersebut kira kira mengandung 1.000 kalori, tetapi memiliki kandungan lemak yang sangat berbeda. Hidangan rendah lemak (nomor I) mengandung sekitar 25 gram lemak, sementara hidangan kaya lemak (nomor 2) mengandung lebih dari 60 gram lemak. Pada hidangan rendah lemak, 22% dari total kalori berasal dari lemak. Sementara pada hidangan kaya lemak. 54% dari total kalori berasal dari lemak.

Keluarga yang sadar kesehatan berhasil menciptakan hidangan yang lemaknya jauh lebih rendah daripada hidangan santap malam rata rata orang Amerika, tetapi mereka melakukannya tanpa menyesuaikan proporsi asupan makanan berbasis* hewani dan -nabati. Kedua hidangan masih bersentral kepada makanan berbasis hewani. I’ada kenyataannya, daging rendah lemak sesungguhnya mengandung lebih banyak makanan berbasis hewani daripada daging kaya lemak Akibatnya, inilah alasan para perawat dalam Nurses’ Health Study mendapatkan variasi lebar dalam a su pa n lemak. Beberapa perawat hanya lebih cermat memilih produk hewani yang rendah lemak.

Banyak orang menganggap hidangan rendah lemak merupakan sebuah kemenangan dari perencanaan hidangan sehat. Namun, bagaimana dengan nutrisi lain dalam makanan tersebut? Bagaimana dengan protein dan kolesterol? Ternyata, hidangan rendah-lemak mengandung lebih dari dua kali lipat protein daripada hidangan kaya lemak, dan hampir semua protein tersebut berasal dari makanan berbasis hewani. Sebagai tambahan, hidangan rendah lemak mengandung hampir dua kali lipat kolesterol ( label 14.5).

KESIMPULAN
Perawat Karnivora, Pada Makanan rendah lemak, jumlah protein dan kolesterol tidak sehat tersebut jauh lebih tinggi.

SUMBER                                         : RAHASIA SEHAT ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA        : Lemak Yang Baik Bagi Kesehatan

 

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *