Protein Dalam Makanan

Protein dan Promosi

Mari kita kembali ke analogi rumput di ladang. Menebar benih rumput di tanah gembur adalah proses inisiasi. Kita telah mengetahui, dengan berpegang kepada sejumlah eksperimen, bahwa pola makan rendah-protein dapat mengurangi jumlah benih rumput “kanker” pada saat penanaman. Kami pun bertanya-tanya, apa tahap terpenting yang dapat dihentikan selama tahap promosi kanker? Apakah manfaat yang berhasil dicapai oleh asupan rendah protein selama masa inisiasi dapat terus berlanjut hingga ke tahapan promosi?

Secara praktis, sangat sulit meneliti tahap kanker yang satu ini karena masalah waktu dan biaya. Tikus-tikus percobaan harus terus hidup sehingga tumor yang tumbuh sempurna dapat hidup di dalam tubuh mereka dan saya pasti masih akan berada di laboratorium selama 35 tahun kemudian!

Saat itulah kami membaca beberapa hasil penelitian menarik, yang baru saja dipublikasikan peneliti peneliti lain.’ Penelitian mereka menuniukkan bagaimana mengukur kelompok-kelompok kecil sel-serupa-kankcr yang muncul tepat setelah tahap inisiasi selesai. Kelompok sel mikroskopis ini disebut foci.

Foci adalah kelompok sel pembawa yang tumbuh menjadi tumor. Walaupun kebanyakan foci tidak tumbuh menjadi sel tumor utuh. tetapi foci dapat menuniukkan adanya perkembangan tumor.

Dengan mengamati perkembangan foci dan mengukur jumlah serta seberapa besar mereka tumbuh, kita dapat mempelajari bagaimana tumor berkembang dan efek yang mungkin dimiliki oleh protein. Dengan mempelajari efek protein pada tahap promosi foci dan bukan tumor, kami dapat menghindari menghabiskan waktu seumur hidup dan beberapa juta dolar untuk bekeria di laboratorium.

Apa yang kami temukan sungguh luar biasa. Perkembangan foci hampir seluruhnya bergantung kepada banyaknya protein yang dikonsumsi, bukan dari banyaknya atlatoxin yang terkonsumsi!

Hasil ini terdokumentasikan dalam berbagai cara menarik, yang pertama kali dilakukan oleh mahasiswa program master saya, Scott Appleton” dan George Dunaif (sebuah perbandingan khas dituniukkan di Grafik 3.4). Setelah inisiasi dengan atlatoxin, foci tumbuh (dipromosikan) lebih banyak dengan pola makan 20% protein daripada pola makan 5% protein.

Protein Dalam Makanan

Protein Dalam Makanan

Protein Dalam Makanan

Protein Dalam Makanan

 

Hingga titik ini. semua hewan terpapar iumlah allatoxin yang sama. Namun, bagaimana jika jumlah paparan allatoxinnya bervariasi? Apakah protein masih berpengaruh? Kami menginvestigasi pertanyaan ini dengan memberikan dosis allatoxin yang berbeda kepada dua kelompok tikus, satu kelompok diberi allatoxin dosis-tinggi, kelompok yang lain diberi allatoxin dosis rendah. Kedua kelompok tikus diberi makan dengan menu standar. Karena pemberian makan yang standar, kedua kelompok tikus memulai proses kanker dengan jumlah “benih” kanker terinisiasi yang berbeda. Kemudian, selama masa promosi, kami memberi kelompok berdosis tinggi allatoxin dengan menu makan rendah-protein dan sebaliknya, menu makan tinggi-protein kepada kelompok berdosis rendah allatoxin. Kami ingin tahu apakah hewan yang mulai dengan banyak benih kanker dapat mengatasi permasalahannya dengan mengonsumsi pola makan rendah-protein.

Lagi-lagi. hasil yang kami temukan sungguh luar biasa (Grafik 3.S). Hewan yang mulai dengan jumlah inisiasi kanker paling banyak (aflatoxin dosis-tinggi) membentuk jauh lebih sedikit foci saat diberi menu 5% protein. Sebaliknya, hewan yang pada awalnya diberi allatoxin dosis-rendah membentuk /auh lebih btmyak foci saat mengonsumsi menu 20% protein.

Sebuah prinsip telah berhasil dibangun. Perkembangan foci, yang awalnya ditentukan dan jumlah paparan karsinogen, sesungguhnya lebih dikontrol oleh protein dalam makanan yang dikonsumsi selama masa promosi. Dengan informasi penting ini. kami merancang eksperimen yang jauh lebih penting. Berikut ini tahap demi tahap eksperimen yang dipraktikkan oleh mahasiswi program master. Linda Youngman.* Semua hewan diberi karsinogen dalam dosis yang sama. kemudian bergantian diberi menu 20% atau 5% protein selama 12 minggu masa promosi. Kami membagi masa promosi meniadi empat periode tiga mingguan. Periode satu merepresentasikan minggu 1-3. periode dua merepresentasikan minggu 4-6. dan seterusnya.

Saat hewan diberi menu 20% protein selama periode satu dan dua (20-20), foci terus membesar sesuai perkiraan. Namun, saat menu hewan diubah menjadi rendah-protein pada awal periode tiga (20-20-5), terdapat penurunan drastis dalam perkembangan foci. Saat hewan kembali diberi menu 20% protein pada periode empat (20-20-5-20), perkembangan foci kembali aktif.

Pada percobaan lain, hewan diberi 20% protein selama periode satu, tetapi diubah menjadi 5% protein selama periode dua (20-5). perkembangan foci secara tajam menurun. Namun, saat hewan-hewan tersebut dikembalikan ke menu 20% protein selama periode tiga (20-5-20), sekali lagi kami menyaksikan kekuatan dramatis yang dimiliki protein dalam makanan untuk mempromosikan perkembangan foci.

Beberapa eksperimen yang dilaksanakan pada waktu bersamaan tersebut sungguh menakiubkan. Pertumbuhan foci dapat diatur, naik dan turun, dengan mengubah lumlah protein yang dikonsumsi, dan pada semua tahap perkembangan foci.

Eksperimen ini juga mendemonstrasikan bahwa tubuh dapat “mengingat” tingkat infeksi karsinogen awal,” walaupun mereka dormant selama masa konsumsi rendah-protein. Artinya, pemaparan terhadap atlaloxtn meninggalkan “cetakan” genetis yang tetap berada pada fase dormant dengan 5% protein hingga 9 minggu kemudian kembali aktif untuk membentuk foci dengan 20% protein. Dengan kata lain. tubuh menyimpan dendam. Ini menyatakan bahwa jika di masa lampau kita terpapar karsinogen yang berhasil menginisiasi sedikit kanker yang berada dalam keadaan dormant, kanker ini masih dapat “bangkit kembali” oleh nutrisi yang buruk di kemudian hari.

Dengan menggunakan tikus percobaan, kami menyelidiki cakupan 4-24% protein dalam makanan (Grafik 3.6r). Foci tidak berkembang hingga tingkat 10% protein dalam makanan. Di atas 10%. perkembangan foci meningkat drastis seiring pertambahan kadar protein dalam makanan. Kesimpulan tersebut kemudian diuji kembali oleh seorang profesor dan lepang. Fujiko Horio.”

Protein Dalam Makanan

Protein Dalam Makanan

Penemuan paling signifikan dari eksperimen ini adalah foci berkembang hanya jika hewan memenuhi atau melebihi jumlah protein dalam makanan (12%) yang dibutuhkan untuk memuaskan tingkat pertumbuhan tubuh mereka.Artinya, jika hewan memenuhi dan melewati kebutuhan protein mereka, perkembangan penyakit dimulai.

Penemuan ini mungkin memiliki relevansi cukup penting bagi manusia, walaupun ini hanya penelitian menggunakan tikus. Saya mengatakan ini karena ada kemiripan dalam kebutuhan protein bagi tikus dan manusia. Protein diperlukan untuk pertumbuhan, baik untuk tikus muda maupun anak-anak (manusia). Protein juga diperlukan untuk mempertahankan kesehatan bagi tikus dewasa dan orang dewasa.

Berdasarkan rekomendasi jumlah konsumsi protein yang diizinkan per hari (recommended daily allowance /RDA), manusia seharusnya memperoleh sekitar 10% energinya dari protein, lumlah tersebut dianggap lebih banyak daripada jumlah yang sesungguhnya dibutuhkan. Namun, karena kebutuhan dapat saja bervariasi untuk masing-masing individu, 10% protein dalam makanan direkomendasikan untuk memastikan tersedianya asupan memadai bagi semua orang. Berapa yang secara ulin dikonsumsi oleh kebanyakan dan kita? Ternyata, jauh di atas angka 10% yang urekomendasikan. Rata-rata penduduk Amerika mengonsumsi 15-16% protein. \pakah hal ini menempatkan penduduk Amerika di posisi rawan kanker? Penelitian dengan subjek hewan memberi petuniuk YA.

Sepuluh persen protein dalam makanan setara dengan memakan 50-60 g protein per hari, tergantung dari berat tubuh dan total asupan kalori. Rata-rata nasional 15-16% berarti sekitar 70- 100 g protein per hari. dengan kaum laki laki berada di bagian atas skala dan perempuan di bagian bawah. Dalam dunia kuliner. terdapat sekitar 12 g protein dalam KM) kalori yang berasal dari bayam (15 ons) dan 5 g protein dalam 100 kalori kacang polong mentah (sedikit lebih dari 2 sdm). Terdapat sekitar 13 g protein dalam 1000 kalori daging steak (hanya sedikit lebih dari satu setengah ons).

Pertanyaan lain adalah apakah asupan protein dapat memodifikasi semua hubungan penting antara dosis aflatoxin dan pembentukan foci? Sebuah unsur kimia biasanya tidak dianggap sebagai karsinogen, kecuali dosis yang lebih tinggi menghasilkan kejadian kanker yang lebih tinggi. Contohnya, saat dosis allatoxin semakin tinggi, pertumbuhan foci dan tumor seharusnya bergerak ke arah yang sama. yaitu semakin besar. Iika sebuah respons kenaikan tidak diobservasi untuk suatu unsur yang dicurigai karsinogen, keraguan akan muncul, apakah unsur tersebut benar-benar karsinogen.

Untuk menginvestigasi pertanyaan tentang dosis-respons ini. 10 kelompok tikus diberi dosis aflatoxin yang semakin tinggi, kemudian diberi makan dengan tingkat protein biasa (20%) atau tingkat protein rendah (5%) selama masa promosi (Grafik 3.7).

Protein Dalam Makanan

Protein Dalam Makanan

Hewan yang diberi makan 20% protein, jumlah dan ukuran focinya meningkat seiring dosis peningkatan aflatoxin, seperti yang diperkirakan. Hubungan dosis-respons sangat kuat dan jelas. Namun, bagi hewan yang diberi makan 5% protein, kurva dosis-respons benar-benar menghilang. Tidak terdapat respons foci sama sekali, bahkan saat hewan diberi dosis maksimal yang dapat ditoleransi. Ini adalah satu bukti lagi yang mendemonstrasikan bahwa pola makan rendah-protein dapat mengatasi efek pemicu kanker dari karsinogen yang paling kuat. aflatoxin.

Apakah mungkin unsur kimia karsinogen, secara umum, tidak menyebabkan kanker, kecuali dalam keadaan nutrisi “tepat”? Apakah mungkin jika terpapar unsur kimia pemicu kanker dalam jumlah kecil, kanker tidak terjadi, kecuali kita mengonsumsi makanan yang mempromosikan dan mendukung perkembangan tumor? Dapatkah kita mengontrol kanker melalui nutrisi?

Dalam eksperimen-eksperimen tersebut. Protein nabati tidak mempromosikan Pertumbuhan kanker bahkan pada tingkat asupan yang tinggi.

 

 

KESIMPULAN
Protein Dalam Makanan, Dalam eksperimen-eksperimen tersebut. Protein nabati tidak mempromosikan Pertumbuhan kanker bahkan pada tingkat asupan yang tinggi

 

SUMBER                               : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA  : Membersihkan Racun Tubuh

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *