PROTEIN

Sebuah Wahyu untuk Berjuang Sampai Mati

Pemandangan semacam itu memberi kami motivasi tak terkira untuk mempercepat proyek Seperti yang telah saya sampaikan, pertama-tama kami harus mengatasi manalah kontaminasi AF, pilihan kami untuk makanan berprotein.

I.angkah pertama dalam menginvestigasi AF adalah mengumpulkan informasi dasar, seperti siapa sa|a di Filipina yang mengonsumsi AF dan siapa saja yang menderita kanker hati. Kami juga mengadopsi strategi kedua dengan mengaiukan pertanyaan: bagaimana sebenarnya AF memengaruhi kanker hati? Kami ingin mempelaiari pertanyaan ini pada tingkatan molekul melalui percobaan dengan tiki». Saya berhasil mendapatkan dana penelitian dari National Institutes of Health (NIH) untuk penelitian tersebut.

Kami memulai serangkaian survei. Pertama, kami ingin tahu makanan apa yang paling banyak mengandung AF. Kami menyimpulkan bahwa kacang tanah dan iagung adalah makanan yang paling terkontaminasi. Dari 29 botol selai kacang yang kami beli di toko bahan pangan setempat, semuanya terkontaminasi dengan tingkat AF sebanyak 300 kali lipat dari jumlah yang dapat diterima dalam makanan di Amerika. Kacang tanah utuh iauh lebih sedikit terkontaminasi, tidak melebihi jumlah AF yang diterima dalam komoditas pangan Amerika. Perbedaan antara selai kacang dan kat ang tanah utuh berasal dari pabrik kacang. Kacang-kacang berkualitas terbaik, yang dijual dalam botol-botol cocktail, dipilih sangat selektif dari ban berjalan. Kacang-kacang bermutu sangat buruk dan berjamur dikirim ke ujung ban untuk dibuat menjadi selai.

Pertanyaan kedua kami adalah siapa yang paling mungkin menjadi “calon korban” kontaminasi AF dan efek pemicu kankernya. Kami menyimpulkan bahwa “calon korban’-nya adalah anak-anak. Mereka mengonsumsi selai kacang ber-AF. Kami memperkirakan konsumsi AF dengan menganalisis ekskresi produk-produk metabolisme AF dalam urine anak anak yang tinggal di keluarga yang sebagian mengonsumsi selai kacang.” Saat mengumpulkan informasi, sebuah pola menarik muncul. Dua area di negeri tersebut dengan tingkat kanker hati tertinggi, di Kota Manila dan Cebu. iuga merupakan area yang sama tempat AF paling banyak dikonsumsi. Selai kacang hampir secara eksklusif dikonsumsi di Manila, sementara di daerah Cebu, kota paling padat kedua di Filipina, umumnya mengonsumsi jagung.

Namun, ternyata masih ada cerita lain. Cerita tersebut muncul dari pertemuan saya dengan seorang doktor terkemuka. Dr. lose Caedo. yang juga seorang penasihat untuk Presiden Marcos. Beliau mengatakan bahwa masalah kanker hati di Filipina cukup serius. Yang sangat memprihatinkan adalah penyakit ini lelah menelan nyawa anak-anak sebelum menginjak usia 10 tahun. Tidak seperti di negara Barat, penyakit ini umumnya menyerang mereka yang berusia di atas 40 tahun. Caedo menjelaskan bahwa ia pernah melakukan operasi kanker hati pada anak-anak di bawah 4 tahun!

Hal itu sendiri sudah menakjubkan, tetapi apa yang kemudian ia ceritakan jauh lebih mengejutkan. Anak-anak pengidap kanker liati berasal dari keluarga yang mampu menyediakan makanan terbaik’. Keluarga keluarga kaya mengonsumsi makanan yang kami pikir adalah menu paling sehat, menu makan penuh daging seperti yang biasa dikonsumsi warga Amerika. Mereka mengonsumsi lebih banyak protein (protein hewani berkualitas tinggi, lebih tepatnya) daripada semua orang lain di Amerika, dan ternyata mereka yang terserang kanker hati!

Bagaimana itu bisa terjadi? Secara umum di dunia, tingkat penderita kanker hati berada pada titik tertinggi di negara-negara yang tingkat rata-rata asupan proteinnya paling rendah. Oleh sebab itu, dipercaya secara luas bahwa kanker jenis ini disebabkan oleh kurangnya protein. Lebih jauh lagi, kekurangan protein adalah alasan utama kami bekerja di Filipina, yaitu untuk meningkatkan konsumsi protein oleh sebanyak mungkin anak penderita malnutrisi. Namun sekarang, Dr. Caedo dan rekan-rekannya memberi tahu saya bahwa kebanyakan anak kaya protein memiliki tingkat kanker hati tertinggi. Untuk pertama kali, hal ini sangat aneh bagi saya, tetapi dengan berlalunya waktu, data yang saya miliki sendiri semakin mengonfirmasi observasi mereka.

Pada saat itu, sebuah hasil penelitian di India muncul dalam sebuah jurnal medis.” Penelitian tersebut melibatkan kanker hati dan konsumsi protein dalam dua kelompok tikus laboratorium. Satu kelompok diberi AF dan menu makan mengandung 20% protein. Kelompok kedua juga diberi jumlah AF yang sama dan menu makan yang mengandung hanya 5% protein. Setiap tikus yang diberi menu 20% protein menderita kanker hati atau penyakit turunannya, tetapi tidak satu pun tikus yang diberi menu 5% protein menderita kanker hati atau penyakit turunannya. Hasilnya sama sekali tidak ada keraguan. Hasilnya benar-benar 100% berbanding 0%. Hal tersebut kurang lebih konsisten dengan observasi yang saya lakukan terhadap anak-anak di Filipina. Mereka yang paling rawan terserang kanker hati adalah mereka yang mengonsumsi lebih banyak protein.

Tidak seorang pun yang sepertinya bersedia menerima kebenaran laporan tersebul. Dalam perjalanan udara dari Detroit, saya bertemu seorang mantan rekan di MIT, tetapi jauh lebih senior, Profesor Paul Newberne. Saat itu, Newberne adalah orang nomor satu yang sangat mencurahkan pikirannya tentang peran nutrisi terhadap perkembangan kanker. Saya menyampaikan kepadanya kesan yang saya miliki terhadap orang orang di Filipina dan tentang laporan dari India, la mengacuhkan laporan tersebut dengan berkata, “Mereka pasti keliru menaruh angka-angka dari hewan-hewan tersebut. Tidak mungkin pola makan tinggi-protein meningkatkan perkembangan kanker.”

Saya sadar bahwa yang saya lontarkan adalah ide provokatif, yang memicu ketidakpercayaan, bahkan dari sesama peneliti. Haruskah saya benar-benar serius melaniutkan observasi?

Secara langsung atau tidak langsung, tampaknya momen dalam karier saya telah dibayang-bayangi terlebih dulu oleh sebuah peristiwa pribadi. Saat saya berusia S tahun, bibi saya terkena kanker. Beberapa kali paman saya mengajak lack, saudara saya. dan saya mengunjungi istrinya di rumah sakit. Walaupun masih terlalu muda untuk mengerti, saya masih ingat ketika saya terhenyak saat melihat huruf “C” besar: canter (kanker). Saat itu saya berpikir, “Jika sudah dewasa, saya ingin menemukan penyembuhan untuk kanker.”

Bertahun-tahun kemudian, bersamaan dengan saat saya memulai pekerjaan di Filipina, ibu istri saya sakit keras karena kanker usus. la baru berusia 51 tahun. Pada saat itu, saya tersadar akan kemungkinan adanya hubungan antara pola makan dan kanker di masa awal penelitian kami. Kasus ibu mertua saya dapat dikatakan agak sulit karena ternyata ia tidak memiliki asuransi kesehatan. Istri saya. Karen, adalah satu-satunya putri yang ia miliki dan mereka memiliki hubungan sangat dekat. Pengalaman sulit tersebut membuat pilihan karier saya menjadi mudah: saya akan pergi ke arah mana pun penelitian akan membawa agar saya dapat mengerti lebih baik tentang penyakit mengerikan ini.

Jika sekarang memandang ke belakang, itu adalah awal dari fokus karier saya alas pola makan dan kanker. Memutuskan untuk menginvestigasi protein dan kanker adalah sebuah titik balik, lika ingin tetap bertahan di jalan ini, hanya ada satu solusi: memulai penelitian laboratorium mendasar untuk melihat, bukan saja apakah benar mengonsumsi lebih banyak protein dapat memicu kanker, tetapi |uga bagaimana hal itu dapat terjadi.

 

KESIMPULAN
PROTEIN pada tubuh jangan sampai kekurangan jika Anda tidak mau mengalami penyakit.

SUMBER                               : RAHASIA ORANG CHINA
LIHAT ARTIKEL LAINNYA  : Penyakit Stres

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *