Waspada Serangan Jantung

Waspada Serangan Jantung

Berita kematian Ricky Jo (45) karena serangan jantung, tentu mengagetkan Betapa tidak, sebelum meninggal, penyanyi yang juga presenter olahraga itu dalam keadaan sehat.

Selain itu, keluarga juga me-ngatakan, Ricky tak punya riwayat penyakit jantung. Dan, hasil check up terakhir yang dijalani ayah dua putri itu juga menunjukkan bahwa kondisi jan-tungnya sehat. Apa yang menimpa Ricky tentu mengingatkan kita pada kematian artis yang juga anggota DPR Adjie Massaid (43) dan presenter olahraga Yopie Beda (37). Keduanya juga meninggal karena serangan jantung.

Tentu tak hanya artis saja yang bisa terkena serangan jantung. Siapa pun bisa meninggal karena serangan jantung. Tidak hanya mereka yang sudah tua, tapi juga yang usianya relatif muda.

Bahkan, menurut Prof Dr dr Rochmad Romdoni SpPD SpJP-(K) FIHA, kasus serangan jantung di Indonesia beberapa tahun ini makin meningkat. Itu berbeda dengan di Eropa dan Amerika yang justru menurun.

“Orang-orang di Barat semakin aware dengan serangan jantung, sehingga mereka memperbaiki gaya hidup dan pola makannya. Beda dengan di Indonesia,” ujar guru besar ilmu penyakit jantung dari Unair itu.

Dijelaskan Romdoni, serangan jantung yang banyak dibicarakan saat ini terjadi karena adanya sumbatan di pembuluh darah ko-roner.

“Karena itulah, penyakit ini sering disebut jantung koroner. Kondisi di mana arteri atau pembuluh darah koroner, yang ber-tugas memberi akan jantung, kurang baik,” jelasnya.

Padahal, pembuluh koroner bertuagas mergalirkan darah beserta oksigen dan nutrisi ke otot jantumg agar iapat berkontraksi dengan baik. (arena itu, adanya penyuimbatar pada pembuluh darah ikoroner ikan menyebabkan aliran oksigen dan nutrisi ke jantung terhambat. Akibatnya, otot jantumg jadi ruak atau mati.

“Nah, rusaknya otot jantung ini bisa berakibat fatal, seperti terganggunya irama jantung atau aritmia, yang menyebabkan su-plai darah ke jantung terhambat, sehingga terjadi kejang dan mengakibatkan kematian men-dadak,” tandasnya.

Selain aritmia, kpmplikasi lain serangan jantung yang mengakibatkan kematian mendadak adal«h ventrikel fibrilasi, yaitu kontraksi jantung yang sangat cepat dan tidak beraturan, sehingga menyebabkan kardiopenik shock, yaitu turunnya tensi darah secara, karena jantung ber-henti mendadak, sehingga menyebabkan kematian.

Penyebab

Menurut Romdoni, tidak ada penyebab khusus terjadinya sumbatan di pembuluh koroner, yang mengakibatkan terjadinya serangan jantung.

“Yang ada faktor risiko,” tegas Romdoni. “Mereka yang berisiko tinggi mengalami serangan jantung adalah perokok, penderita diabetes, hipertensi, kegemukan, kurang olahraga, dan faktor ge-netik,” imbuhnya.

Tentang rokok, Romdoni menjelaskan, bila diisap terus-menerus, nikotin akan menumpuk dan merusak pembuluh da-rah, sehingga kolesterol dengan mudah menempel.

“Penumpukan kolesterol ini menyebabkan pembuluh darah menyempit, timbul penyumbatan, dan terjadi serangan jantung,” terangnya.

Pada penderita diabetes, kadar gula dalam darah yang tinggi bisa merusak pembuluh darah dan struktur internal lainnya. Selain itu, juga dapat meningkatkan kolesterol dalam darah, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penumpukan lemak di pembuluh darah).

Kondisi serupa juga terjadi pada mereka yang kegemukan dan kurang olahraga, sehingga terjadi penumpukan lemak di pembuluh darah, dan memudahkan serangan jantung.

Gejala

Sampai saat ini masih banyak yang beranggapan, awalnya ti-dak ada gangguan jantung, tapi tiba-tiba meninggal karena serangan jantung.

Padahal, yang sering terjadi adalah orang tersebut menga-baikan rasa sakit yang meru-pakan gejala awal serangan jantung. Karena itu, kenali tanda-tanda serangan jantung berikut:

– Nyeri di Dada Kiri

Berat-ringannya nyeri di dada bergantung daya tahan masing-masing orang. “Pada diabetesi, umumnya tidak timbij! rasa nyeri, karena ada g§ftgguan neuropati pada saraf yang menyebabkan rasa sakit,” tambahnya.

Rasa nyeri di dada kiri itu bisa menyebar ke te-ngah, hingga ke bahu dan lengan kiri. Bahkan, ke bagian atas tubuh, seperti leher dan geraham.

Rasa tidak nyaman di dada kiri itu bisa seperti rasa tertekan, sesak, atau perasaan seperti masuk angin seperti mual. Rasa nyeri itu timbul saat beraktivitas, baik ringan maupun berat.

“Timbulnya nyeri di dada kiri saat beraktivitas ringan, dan makin bertambahnya rasa nyeri, mengindikasikan serangan jantung cukup berat. Kondisi itu sering diasumsikan dengan angin duduk. Padahal, itu bukan masuk angin biasa, karena sebenarnya gejala jantung koroner,” tandasnya.

– Napas Berat

Orang yang terkena serangan jantung akan susah bernapas, karena ketidakteraturan irama jantung. “Keringat dingin disertai napas tersengal-sengal saat beraktivitas ringan, seperti jalan kaki, bisa jadi tanda serangan jantung,” jelas Romdoni.

Segera ke Rumah Sakit

Bila tanda-tanda serangan jantung muncul, Romdoni mengingatkan agar segera menghentikan aktivitas dan tetap rileks. Selanjutnya, segeralah ke rumah sakit. “Tidak ada pertolongan pertama yang bisa diberikan di rumah. Karena itu, bila ada tanda-tanda serangan jantung, segeralah ke rumah sakit untuk menda-pat pertolongan,” tandasnya.

Kesimpulan
Waspada Serangan Jantung
Masa emergency serangan jantung 1-2 jam. Lebih dari itu, bisa berakibat fatal.

Waspada Serangan Jantung

Waspada Serangan Jantung

Sumber : NYATA Tabloid
Artikel Lainnya : WANITA LEBIH RENTAN FOBIA

banner smartdetox bawah baru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *